Michele Pauletic – Master Barista Class

You may read the English version below the last Indonesian paragraph : 

Satu persatu para peserta kelas Master Barista di Università del caffè (UDC) Jakarta menimbang bubuk kopi sebanyak 14 gram yang akan digunakan untuk membuat espresso. Inilah tugas pertama dari Michele Pauletic (33 tahun), pelatih Barista yang langsung didatangkan dari kantor pusat Illy di Trieste untuk berbagi teknik penyajian kopi dari Italia yang berlangsung dari tanggal 23-25 November tadi. Michele mengajarkan berbagai macam teknik tamping (memadatkan bubuk kopi pada portafilter) untuk mencapai hasil brewing 30 ml/1 oz dalam kisaran waktu 25 hingga 30 detik.  Itu sebagian kecil dari banyak materi yang dibagi oleh Michele, Master Barista dari Illy yang telah berbagai ilmunya di berbagai kota di dunia dan ini kedatangan keduakalinya ke Jakarta.

Michele (dibaca Mikele) tentu tidak hanya datang untuk berbagi bagaimana menjadi seorang barista yang mumpuni saja, tapi ia juga membawa para peserta pada kelas Master Barista untuk lebih jauh mengenal kultur kopi di Italia. Misalnya secangkir cappuccino di Trieste hanyalah secangkir kecil (demitasse) yang berukuran 90 ml, hingga perbedaan caffe latte (espresso + susu tanpa foam) dengan latte machiatto (espresso + susu yang di frothing). Michele yang datang atas undangan Università del caffè  Jakarta tentu banyak berbagi tips praktis dalam acara 3 hari penuh (23-25 November) dan saya diundang untuk melihat bagaimana seorang Barista sekelas Michele Pauletic melatih para peserta yang juga dihadiri oleh Adi W. Taropertajeka yang hadir di hari terakhir.

Menurut Michele, para peserta Indonesia yang sebagian sudah pernah mengambil kelas di UDC tidak kalah dengan rekan-rekannya dari luar negeri. Ia membandingkan dengan peserta dari Jepang yang punya teknik lebih bagus, tapi kadang suka bersikeras dengan teknik yang mereka pertahankan. Tapi Michele senang dengan peserta dari Indonesia yang lebih terbuka dan tak segan mengulang lagi untuk mencapai hasil yang terbaik. Sesekali ia menyemangati peserta yang berhasil melakukan brewing dengan hasil yang sangat bagus, “Lihat bagaimana mereka sudah bisa membuat tiger strip, indikator awal pada krema yang bisa menunjukan hasil ekstraksi bagus!” ujarnya bersemangat.

Materi pelajaran Master Barista sudah didesain oleh kantor Illy pusat untuk memberikan nilai lebih dengan berbagai teknik dan tips praktis dari Michele yang dibantu oleh sang asisten Nicola Scgognamiglio. Misalnya mereka berdua memberikan penjelasan serta praktek langsung bagaimana mengatur dosing pada grinder agar sekali tarik bisa menghasilkan 7 gram. Caranya adalah dengan memutar sekrup yang terdapat doser lalu dicoba berulang hingga ukurannya pas 7 gram maka barista hanya tinggal melakukan 2 pull untuk mendapatkan dosing 14 gram.

Lalu yang menarik dan sering dilupakan saat keduanya mengajarkan cara perawatan mesin espresso dan grinder yang sebenarnya hanya memakan waktu singkat, tapi sangat penting untuk menjaga kualitas minuman dan tentu saja membuat peralatan lebih awet. Nicola mempraktekan secara detail langkah-langkah perawatan mesin seperti back flush dengan menggunakan bubuk kimia yang dimasukan ke dalam portafilter. Ia menggunakan blind filter yang dipasang pada portafilter dan menuang bubuk kimia satu sendok teh dan memasang kembali ke group head mesin selanjutnya menekan tombol brew selama 15 detik dan dilakukan tiga kali. Berlanjut hingga membersihkan shower screen dan steam tip sebagai perawatan rutin yang harus dilakukan secara berkala.

Saat berbincang dengan Michele saya bertanya, “apa kesalahan utama yang sering  ditemui oleh Michele di kalangan para Barista ? “Tidak melakukan grinder setting ! katanya singkat. Ini hampir terjadi di hampir tempat selama ia melakukan perjalanan, termasuk juga di Italia. Banyak yang masih belum paham poin penting ini, padahal hanya perlu sedikit kesabaran dan Anda akan tahu apa bedanya saat sudah melakukannya dengan benar”.

Di Università del caffè (UDC) Jakarta, peserta dihadapkan pada grinder Mazzer Mini yang perlu sedikit “tenaga” untuk memutar bagian collar pada saat melakukan grinder adjustment. Ronald Purba dan Arief Budiman, instruktur di UDC juga turun tangan memberikan penjelasan teknik cepat melakukan adjustment kepada beberapa orang peserta. “Putar dulu collar hingga tidak bisa lagi digeser, mulai dari titik tersebut dan geser sedikit demi sedikit karena biasanya lokasi yang pas tidak akan terlalu jauh”

Salah satu hal yang berbeda di kelas yang diselenggarakan oleh UDC selalau disajikan materi creative coffee, dengan resep khusus yang sudah dirancang oleh pihak Illy seperti pada sajian cafe freddo dengan berbagai variasi, Marochino, dan beberapa menu pilihan yang dipresentasikan lalu dipraktekan oleh masing-masing peserta. Tak ada resep yang kompleks, namun dengan peralatan coktail sederhana seperti Boston shaker dan sebuah milk shaker, peserta bisa membuat berbagai variasi minuman dengan tekstur dan rasa yang berbeda,

Ada ujian tertulis dan tentu saja kompetisi antar para peserta untuk membuat dua espresso dan cappuccino dalam waku 10 menit yang dinilai oleh Michele dan Michael dengan hadiah berupa satu set kreasi cangkir Illy kreasi dari Tobias Rehberger, desainer dari Jerman.

Menurut Michael Gibbons, Business Development Manager PT Bahana Genta Viktory, tidak setiap tahun mereka bisa mengundang Michele yang punya jadwal ketat, tapi ia menggaris bawahi bahwa siapapun bisa mengikuti acara serupa di waktu yang akan datang  sebagai upaya Illy untuk berbagi authentic Italian coffee experiences.

* * *

English Version :

One of the participants from the Master Barista class at Università del caffè (UDC) Jakarta is busy weighing 14 gram of ground coffee, which is going to be used to make espresso. This is the first task assigned to them by Michele Pauletic (33), the Barista trainer who comes straight from Illy’s head office in Trieste, and is here to share the infamous Italian coffee serving technique which is held from 23 – 25 November, 2011.  Michele teaches the participants many kinds of tamping technique (solidifying ground coffee to a portafilter) in order to achieve 30 ml/oz brewing result within 25 to 30 seconds. That’s just one of the many modules presented by Michele, the Barista Master from Illy, who has shared his knowledge all over the world, and visits Jakarta for the second time.

Michele (pronounced mee-KEH-leh) not only shares his knowledge about how to be a barista, but he also leads the participants further into learning about the Italian coffee culture.  For example, in Trieste cappuccino is served in a much smaller cup (called a demitasse) which only holds 90 ml of coffee, and he also explains the difference between a caffe late (espresso and frothless milk) and latte machiatto (espresso with frothy milk). Michele, who is invited by Università del caffè (UDC) Jakarta has shared plenty of practical tips within the 3 days schedule, and I am invited to see how a Barista in his calibre can train the participants, in which amongst them is Adi W. Taropertajeka, who attends the third day’s schedule.

Michele says the Indonesian participants who have taken classes at UDC are just as competitive as the participants abroad. He compares them to the participants from Japan who have good techniques, but prefer to stick with the ones they are familiar with. However, Michele is glad with the Indonesian participants who are welcoming and not afraid to do many trials to achieve the best result. Every once in a while he will cheer a participant who manages to achieve excellent brewing, “Look how they’ve made the tiger strip, an early indication to the crema that shows great extraction!” he says excitedly.

The lesson material is designed by Illy’s head office to give more values on various pratical tips and techniques from Michele, who is helped by his assistant, Nicola Scgognamiglio.

They both demonstrate how to set the dosing on the grinder so that you can produce 7 gram of ground coffee in one pull. The method is to turn the bolt on the doser until you get the exact 7 gram amount of coffee, then all you have to do is take 2 pulls and you’d get 14 gram of dosing.

What is so interesting and often goes unnoticed is the way they both teach proper maintenance of the espresso and grinder machine, which is actually so quick and yet so crucial because not only does it maintain the quality of the beverage produced, but also makes the equipment lasts longer.

Nicola demonstrates in detail the steps of maintainance such as the back flush using chemical powder which is inserted into the portafilter. He uses a blind filter placed on the portafilter, pours a teaspoon of chemical powder, replaced back the machine’s group head and pressed the brew button three times, in the period of 15 seconds each. He then continues cleaning the shower screen and the steam tip as a routine maintenance that must be done periodically.

While talking with Michele, I ask “What typical mistakes that a barista often makes?”

And his reply is “Not setting the grinder! This happens almost in every place I’ve been to, including those in Italy. Many baristas still don’t undersand the importance of setting the grinder, even though all it takes is just a bit of patience, and immediately you will see the difference when you’v done it correctly.”

At Università del caffè (UDC) Jakarta, the participants are faced with Mazzer Mini grinders that require more power to turn the collar when adjusting the grinder.

Ronald Purba and Arief Budiman, the instructors at UCD also step in to explain the quick technique in adjusment to several participants, “You have to turn the collar until you can no longer move it, then starting from that point, move the collar bit by bit because usually the point that you want to achieve is not going to be far from there.”

One of the unique things that is offered at UCD is the creative coffee lesson, using special recipe designed by Illy, like the café freddo in different variations, and the Marochino and several other menus that are presented and demonstrated by the participants. There are however no complex recipes, but simple cocktail utensil such as the Boston shaker and a milk shaker allow the participants to create variations of beverages in different textures and tastes.

At the end of the lesson, there is, of course, a written test and a competition amongst the participant to create two cups of espreso and cappuccino in 10 minutes, with Michele and Michael Gibbons as the judges, who will present a set of Illy cups designed by a German designer Tobias Rehberger, to the winner of the competition.

According to Michael Gibbons, the Business Development Manager of PT Bahana Genta Viktory, it might not be possible to invite Michele every year, as he has tight schedules, but that doesn’t stop anyone from participating similar events which will be held in the future, as this is Illy’s way to share authentic Italian coffee experiences.

For the Images:

Barista and Food and Beverage Industry : “Don’t forget that baristas are a part of the F&B industry, a domain in the hospitality industry who not only demands urgency but also create a comfortable atmosphere to its customers.” One of the tips given by Michele Pauletic at the Master Barista class at Università del caffè (UDC), PT Bahana Genta Viktory, 23-25 November 2011.

Nicola Scognamiglio : A barista must really understand how to clean an espresso machine to maintain the quality of the beverages he creates.” One of the essential tips from Nicola, Michele’s assistant who stresses on the cleanliness of espresso machines.

14 gram double shot : Every participant must be able to produce espresso with a dosing or measurement of not more than 14 gram for two cups of espresso. Michele teaches the correct tamping technique so this “holy number” can be achieved.

Barista Competition : At the end of the event, the participants compete against each other to make espresso and cappuccino with a set of Illy’s “Art Collection” coffee cups, designed by Tobias Rehberger.

Adi : Adi W Taroepertajeka who attended the event (second from the left), posing with Nicola Scognamiglio, Michael Gibbons and Michele Pauletic.

 



Correction : Adi Taroepratjeka

11 replies
  1. ttn
    ttn says:

    ANDY, the base for perfect cappuccino is a perfect espresso, you cant do a good cappuccino with bad espresso, off coruse you could be a good designer, but if your target is only the latte art you will never be barista, learn the important things than the frivolities, please guys, be serius, and dont talk about things you don’t know
    14-15 grs for bouble shots and 7-7.5 for single, never more unless you are in possession of a lever machine the second are 30 and the milliliters are 25 fixed this rules in your mind!!!

  2. Andy Kho
    Andy Kho says:

    Biasanya saya pake cara scottie: isi basket, knock, isi lagi, tamp. Di double basket pake 16gr, di single pake 10gr supaya pas dgn grind yg sama, bisa dapat 25 detik.
    Semalam di kantor iseng2 nyasar balik ke halaman ini.. sampe rumah jam 12 benernya dah ngantuk, tp penasaran.
    Coba halusin grind, double basket 14gr. Pull 2x masih ngucur melulu, ketiga baru dapat 25 detik. Cobain: espressonya lebih manis & clean dari biasa!
    Terus coba steam susu, pour a heart, srupuuttt… enak banget!!!
    Puassss!! Ga sia2 nyalain mesin tengah malam. Serasa ikutan barista class ditraktir kang TW kalo begini sih hahaha…

  3. erissan
    erissan says:

    5 faktor yang harus diperhatikan untuk membuat espresso yg baik:

    1. Biji Kopi
    2. Mesin Espresso
    3. Grinder
    4. Barista
    5. Air

    semuanya saling berhubungan…semoga bermanfaat..

  4. erissan
    erissan says:

    mengenali espresso yg baik adalah pondasi untuk jadi barista yg hebat. Semua itu bisa didapat dengan cara selalu membuka diri utk belajar dari orang lain…..apalah artinya latte art yg bagus…kalo rasa kopinya ancur….

    Jadi…espresso adalah dasarnya..kemudian frothing milk…

    sukses terus kang….

  5. johan ade
    johan ade says:

    Betul sekali, basic memang tidak boleh terlupakan. Barista profesional pun tidak pernah melupakan tentang basic. Apalagi basic espresso, alright sir..

    cheer’s

  6. sobari
    sobari says:

    espresso yang baik;
    kopi biji pilihan yang terbaik.
    setting grinder yang tepat
    setting mesin yang tepat
    kemampuan pengguna / barista / yang sudah mempunyai pengetahuan teknik, bukan asal bisa.
    jadi sempurna deh …., tuh kopi espresso.

    Teknik mesti harus diperhatikan bila mau mendapatkan yang terbaik, selain dari yang tersebut diatas….

    thanks mas Tony

    salam sobari.

  7. Julian Dani
    Julian Dani says:

    wah kangen suasana kelas UDC.. sayang bgt ga bisa ikut kelas yg ini… 🙁

    btw seru jg tu ada kompetisi kecil2an,hadiah nya super2 menarik lg,hehe..

    btw michael cut his hair,looks a lot younger haha..

  8. Chin San
    Chin San says:

    beruntungnya dapet cangkir set by illy. Desainnya special tuh. haha Keren…^^ Ada mas Adi jg yg sering d kompas tv hahaa…

    Betul, Adi W. Taroepratjeka, host Coffee Story di Kompas TV.

  9. Michael Gibbons
    Michael Gibbons says:

    Nice article as always Toni

    cheers

    Michael

    Many thanks for the opportunity to attend the class, learned a lot from Michele.

  10. Billiy JCH
    Billiy JCH says:

    yang terpenting dari seorang barista adalah

    Grinder adjusment, evaluation espresso, frothing technic itulah dasar yang harus di kuasai oleh seorang barista, maintenance mesin dan pemahaman tentang kopi juga harus di kuasai….yang terpenting adalah PAHAM

    Frothing buat saya susah, males ngulang kalau sudah gagal 🙂

  11. Andy Kho
    Andy Kho says:

    Bahkan “master barista class” pun fokusnya tetap pada espresso dan maintenance mesin.

    Sementara konon disini banyak orang lebih tertarik pada latte art. Memang bener ya, harus ‘secure the base’ dulu sebelum lanjut…

    the more i learn, the less i know -_-”

    Gwylim Davis, mantan juara dunia Barista juga sangat menekankan kebersihan mesin espresso waktu dia berkunjung ke Indonesia beberapa waktu yang lalu. Tentu selain skills dasar sebagai seorang Barista.

Comments are closed.