yt2

Yoshua Tanu (28) dari Common Grounds Coffee Jakarta menapaki jalan panjang dengan menyisikan 150 peserta Indonesia Barista Championship dan menjadikan dirinya sebagai Barista terbaik se-Indonesia. Gelarnya dikukuhkan setelah juri memberikan nilai tertinggi atas penampilannya pada babak final di La Piazza, Kelapa Gading Jakarta, hari Ssabtu kemarin. Muhamad Aga (Tanamera Coffee), dan Anggara Rizky (1/15 Coffee) menyusul diurutan kedua dan ketiga.

yoshua1

Yoshua Tanu (Juara 1 & Best Cappuccino). Tampil prima sejak babak penyisihan di Jakarta dua minggu lalu, Yoshua memulai presentasinya dengan suguhan espresso Melona Toduri yang biji kopinya sudah diseleksi dengan besaran yang dibatasi antara 6 hingga 8mm. Menurut Yoshua, keseragaman ukuran biji akan lebih memaksimalkan karakter rasa citric syrup, lime juice, dan cranberry.

Pada suguhan cappuccino,  di hadapan para Juri Yoshua kembali menjelaskan bahwa espresso dengan susu akan memberikan rasa avocado dan butter cream. Perbedaan antara rasa yang dikeluarkan saat disajikan dalam bentuk espresso dibanding dengan cappuccino adalah keistimewaan yang terdapat pada single origin tersebut.

Di akhir penampilannya, Yoshua memberikan aksen rasa espresso-nya dengan 60 ml saus cranberry yang ia buat sendiri, dua sendok teh lime juice, 1 gram brown sugar, dan teh cascara yang telah disimpan dalam pendingin sehari sebelumnya. Ia menekankan jika dua kombinasi rasa teh dan kopi adalah kunci agar rasanya tetap seimbang yang ia sajikan dalam signature drink-nya. Penampilan perdananya di babak akhir diselesaikan dalam catatan waktu 14 menit, 42 detik.

aga

aga2

Muhamad Aga (Juara II). Dengan gaya komunikasi kasual, Aga (23) tampil penuh percaya diri berbekal jam terbangnya yang cukup banyak di beberapa pertandingan sebelumnya. Mengandalkan kopi favorit-nya, Toraja Yale, Aga menjelaskan karakter rasa buah markisa, dark chocolate, dengan intensitas medium dan diakhiri dengan body  yang thick mouthfeel untuk espresso dan cappuccino.

Di bagian akhir, minuman Signature Drink yang ia perdalam selama seminggu sebelum pertandingan babak final, Aga  mulai meng-infsue markisa dengan air, lalu tahap selanjutnya ia memerasnya untuk mendapatkan karakter acidity selain dengan memanfaatkan kulit jeruk. Sebagai penyeimbang kompleksitas rasa, butiran brown sugar direkatkan di pinggir gelas dan sedikit cream. Aga menghabiskan waktu selama 14 menit, 40 detik dalam penampilannya sebagai peserta ke 5 dari 6 finalis.

ang3

Anggara Rizky (Juara III). Barista 1/15 Coffee, kelahiran Malang 28 tahun yang lalu, memulai penampilan cantiknya dengan sajian dua jenis roasting yang berbeda dari satu varian Tipika daerah Pacet, Kabupaten Bandung.  Dua gradasi roasting yang berbeda, light roast agar sweetness nya lebih keluar dan juri diharapkan dapat merasakan manisnya buah plum dan asam mangga. Begitu penjelasan Anggara saat mempresentasikan espresso-nya.

Di bagian cappuccino, kopi yang di roast dengan warna sedikit lebih gelap oleh Morph, menurut Anggara dimaksudkan agar lebih menonjolkan tekstur banana dan milk chocolate. Terakhir, sajian Signature Drink-nya ekstrak buah plum yang terlebih dahulu sudah didinginkan di campur dengan espresso. Waktu, 15 menit, 5 detik.

ang2

intan

Intan Kumalasari (33). Ini penampilan terakhir Intan di ajang IBC dan setelah berhasil merebut gelar “The Best Espresso”. pada penampilannya kemarin. Menggunakan kopi Bali varian Tipika yang ia roasting sendiri, Intan melakukan ekstraksi sebanyak 27 gram dalam waktu 22 detik untuk memunculkan rasa citrus, floral, serta acidity tamarind. Oleh para Juri, espresso-nya dikukuhkan sebagai yang terbaik di antara kelima peserta lainnya. Selain Intan yang menduduki peringkat ke-empat, terdapat M Fauzan Umar dari Trafique Coffee (ke-5), dan Gandi Pramitha juga dari Caswell di posisi ke-6.

yt

yoshua tanu

mira

Panitia IBC 2014

Perhelatan IBC tahun 2014 tentunya tak bisa dilepaskan dari Mira Yudhawati yang dibantu oleh WBC Head Judge Hendri Kurniawan yang telah berjibaku sejak tahap persiapan hingga akhir acara kemarin. Keduanya dibantu oleh sukarelawan : Ve Handojo, Daniel Kaurranny,  Restriani, Kinsky Bunyamin, dan terutama Joe Sentoso yang telah mengorkestrasi keseluruhan acara agar berlangsung tanpa jeda. Kerja keras mereka membuat saya harus menyimpulkan bahwa event IBC tahun 2014 jauh lebih baik dan punya greget dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Catatan lain, sebuah Brew Bar yang menyajikan kopi buat para pengunjung adalah poin penting yang juga wajib diapresiasi, selain tentunya peran Ronald Pransanto melalui Ron’s Laboratory yang menyajikan gelato hingga menghasilkan antrian panjang.

Viva le Barista !

*  *  *

1 reply

Comments are closed.