Senang rasanya bertemu dengan versi pertama La Spaziale Vivaldi seri 1 yang setelah versi teranyarnya Vivaldi II sudah saya terbitkan beberapa waktu lalu di  sini dan sini. Dari sekian banyak mesin espresso kelas prosumer, Vivaldi lah yang paling lama saya gunakan tanpa pernah menghadapi kendala apapun selain sesekali kemasukan angin karena lupa mengganti galon air. Selebihnya, inilah salah satu mesin ini yang saya rekomendasikan bagi siapa saja yang mulai melirik dan siap meminang sebuah “mainan” cukup mahal.

Vivaldi sudah cukup lama dipasarkan di Indonesia dan pabrikan dari Milan Italia ini terus memperkokoh posisinya sebagai produsen mesin espresso yang namanya sudah semakin banyak dikenal. Harganya memang tergolong tak murah, tapi banyak pengguna yang sudah percaya akan kualitas, daya tahan, dan kinerjanya yang mumpuni.

Terlepas dari ukuran portafilter-nya yang berdiameter 53cm, yang menurut saya justru merupakan kelebihannya, Vivaldi adalah sebuah mesin espresso yang begitu toleran hingga cukup mudah digunakan. Sedikit over dose, tamping agak miring, misalnya, buat Vivaldi hal tersebut bukanlah dosa besar dan tak terampuni.  Apalagi portafilter-nya yang single sangat membantu menghemat kopi karena biasanya pada yang berdiameter 58mm, agak sulit menghasilkan shot yang bagus, setidaknya buat saya. Cocok dengan namanya Vivaldi, sebagaimana nama komposer Baroque yang hasil karyanya tidak njlimet dan mudah untuk dinikmati bagi siapapun yang awam dengan musik klasik.

Kemasan Vivaldi tidaklah terlalu besar, tapi mesin ini berbobot hampir 30 kilogram yang terlindung dengan busa styrofoam. Terdapat dua buku manual, satu untuk pengguna dan satu lagi untuk teknisi, dua buah portafilter untuk single dan double basket, tamper plastik, sendok kopi, sikat kawat untuk pembersih group head, kunci pembuka group head, dan blind filter. Seperti biasa, tamper plastik boleh Anda singkirkan dan mengganti dengan yang terbuat dari alumunium atau stainless. Jangan lupa kalau ukurannya harus berdiameter 53mm dan bukan 58mm.

Sebelum saya lanjutkan, khusus bagi pembaca yang baru mampir, mesin mahal ini tak akan berfungsi optimal kalau Anda tidak punya penggiling kopi. Jadi percuma kalau Anda membeli kopi yang sudah digiling dari cafe  lalu di “masak” di mesin ini karena ukuran kehalusan yang saya yakin sulit untuk sesuai. Sejak dahulu mantra cikopi.com belum berubah : beli grinder dulu sebelum membeli peralatan kopi yang lain termasuk mesin espresso ini. 

Apa sih perbedaan antara Vivaldi versi 1 dan 2  selain pada bentuk pegangan atau handle portafilter yang sekarang mengadopsi desain yang lebih lonjong, tapi tetap enak untuk dipegang. Selain direct plumbing atau langsung colok ke galon air sebagaimana Vivaldi 1 dan 2, terdapat versi lain yang menggunakan tangki air dan saya tidak tahu apakah model ini sudah dipasarkan di sini.

Keduanya masih mengunakan sistem dua boiler seperti Vivaldi II, tapi terdapat beberapa perbedaan yang cukup mencolok antara lain :

    • Manometer hanya menunjukan angka tekanan boiler, sedangkan Vivaldi II juga dilengkapi dengan tekanan pompa.
    • Steam wand yang hanya bisa digerakan ke atas dan ke bawah, lain halnya dengan versi II yang bisa bergerak cukup bebas.
    • Offset differential atau pengaturan suhu seduh pada kelipatan lima dari 85 hingga ke 120 derajat celsius. Vivaldi II dimulai dari 91, 92, hingga maksimal 97 derajat celsius.
    • Elemen pemanas akan langsung bekerja bila suhu terdeteksi turun 1 derajat celsius (1/2 derajat celsius atau lebih cepat pada Vivaldi II).
    • Mohon koreksi bila salah, Progressive pre-infusion sebuah alat seperti tabung harus dipasang terlebih dahulu agar Vivaldi bisa melakukan tugasnya untuk para Barista yang ingin mengekplorasi fasilitas iniSetelah ditelaah kembali, saya harus meralat karena Vivaldi 1 sudah menyertakan fasilitas pre-infusion tanpa harus memasang chamber khusus. Lihat detail cara lengkap mengaktifkan fitur ini pada posting saya di : https://www.cikopi.com/2010/09/vivaldi-ii-pre-infusion/

Walau Versi 1, kemampuan Vivaldi tidaklah jauh berbeda dengan adik kandungnya, apalagi fasilitas pengaturan suhu yang mudah diubah dengan cara menekan tombol air panas selama beberapa detik dan tekan lagi agar secara otomatis suhu naik sebanyak 5 derajat. Penggunaan pompa rotary membuat suara mesin lebih halus dibandingkan dengan sistem pompa getar.

Untuk direct plumbing, terdapat pro dan kontra bila mesin ini hanya digunakan untuk di rumah dalam frekuensi yang tidak tinggi. Tapi buat saya, sambungan langsung ke galon air lebih praktis tanpa harus mengisi air di tangki, walau harus menyediakan tempat khusus untuk sambungan pipanya.

Satu hal yang saya sukai pada Vivaldi adalah kemudahan dalam membersihkan group head karena tinggal memutar satu baut di bawah shower screen. Kunci untuk membuka shower screen sudah disediakan dan diharapkan untuk digunakan dalam rangka perawatan rutin pada bagian ini.

Sebelum saya lupa, Vivaldi menghabiskan listrik 2000 watt, selain cukup besar, mesin ini perlu tegangan  yang stabil agar komponen elektronik (panel) yang rentan terhadap turun naik voltase bisa terhindar dari kerusakan (surge). Sebuah stabilisator dengan kapasitas lebih dari 2000 watt akan lebih baik dalam menjaga keawetan komponen elektroniknya.

Bersama rekan Susan (22 tahun) saya baru saja mencoba Vivaldi 1 beberapa kali dan seperti biasa mesin ini tidak pernah mengecewakan. Hanya perlu beberapa kali setting grinder dan Vivaldi sudah bisa melakukan shot yang cukup bagus dan saya harap Anda kalau Barista sekelas Susan yang sudah berpengalaman cukup panjang di sebuah coffee shop dari Amerika bisa menghasilkan espresso yang bagus . . . tanpa harus disertakan fotonya. 🙂   Hanya posisi steam wand yang agak kaku membuat saya harus membiasakan dengan kedudukannya yang hanya bisa mengangguk, tapi tidak menggeleng.

Pertanyaannya apakah Vivaldi 1 atau 2 ? Buat yang punya anggaran lebih, saya sarankan untuk memilih versi 2 karena offset differential yang berbeda satu derajat, steam wand yang lebih fleksibel, dual manometer dan sudah terintegrasi dengan sistem pre-infusion tanpa harus memasang chamber terpisah. Tapi Vivaldi 1 bukanlah pilihan yang buruk, terlepas dari keterbatasannya seperti steam wand yang kaku, tanpa pre infusion, mesin ini tetap mengedepankan sifat toleran dan pemaaf akan kesalahan kecil dan itu kelebihannya tanpa harus takut kena fentung 🙂

Saya kembali dulu ke Susan . . .

* * *

15 replies
  1. Ronprasanto
    Ronprasanto says:

    Ini mesin mantab bgt,waktu itu nyobain di tempat pak toni wahid.mempermudah pekerjaan barista.tempratur sangat bagus.

    Makasih sudah mampir dan mencoba Vivaldi, ntar saya update ah fotonya waktu bikin latte 🙂

  2. Hery Ishak
    Hery Ishak says:

    Euleuh..euleuh.., kang Tony itu pemeran utamanya datang ka di gotong ka imah…? hmm..hmm…
    Membuat penampakan mesin jadi tambah bagus euy…. tidak ada mati nya kang tony ini ya.

    Private barista sayah ;D

  3. Dendi
    Dendi says:

    Waahhh keren banget tuh pas foto bertiga anfim on demand, S1, sama Susan hehehehehe :mimisan:
    Kalo S2 berapaan Pak Toni?

  4. Julian Dani
    Julian Dani says:

    uda cakep,barista pula… #ngelantur

    kok ga ada fotonya pas lg tamping pak,hehehe.. #tetep ngarep

  5. Danny
    Danny says:

    @abudsky: yg cantik Mini Vivaldi 1 nya apa si susan nya neh…??
    mas Tony, klw boleh tau brp neh price dr Mini Vivaldi 1 …??
    thanks

    Hmmm … Susan 🙂
    Harga 29 jutaan.

Comments are closed.