Kopi Keliling

I pick Kopi Toebroek as my theme because is my favorite and very Indonesia way of drinking coffee. You just need a ground coffee, sugar, hot water, a tall glass and voila, you’ll have a brutally strong yet sweet coffee. Pair it with snack like “pisang goreng” or “roti bakar” or a beatiful girl will make it event perfect. Basically kopi troebroek is a simple coffee, a humble one”

Introduksi tentang kultur kopi di Indonesia di atas yang sangat mengena, saya kutip pada tema karya desain grafis Hendy Musa (Ape-Republic) yang dibuat dengan teknik marker dan cat semprot pada material acrylic pada ukuran kanvas 84 x 59 cm.  Karyanya merupakan salah satu ilustrasi yang dipamerkan pada pembukaan kegiatan anggota Kopi Keliling di Tornado Coffee, Jl. Kemang Utara 66, Jakarta, kawasan Kemang, Jakarta Selatan, hari Minggu, 20 Februari yang akan berlangsung hingga 5 Maret mendatang.

Coba Anda lihat karya seniman2 besar yang menjadikan kopi sebagai tema utama lukisan mereka, “Old woman with coffee grinder karya Vincent Van Gogh, Coffee Pot oleh Paul Cezane, Two Woman Drinking Coffee (1893) oleh seniman Adouard Vuilard, Greeks in a Viannese Coffee House (1824) dari Leopold Theodor, Jean Joseph Rosemont yang menggambarkan keindahan perkebunan kopi di Isle of Bourbon, Le déjeuner (Morning Coffee), François Boucher, dan daftarnya akan terus panjang bila saya teruskan.

Baik karya yang dihasilkan di era renaissance, baroque, rococo, dan modern, kopi selalu menjadi bagian tak terpisahkan dalam ekspresi berkesenian dan demikian juga halnya yang dilakukan Kopi Keliling (Kopling) melalui Art Exhibition yang dilakukan oleh mereka bukan di galeri seni yang megah, tapi cukup di kedai Tornado Coffee.

Baru setahun ini Raymond Malvin bersama rekan2 ilutrator, desainer grafis mereka sering berkumpul di That’s Life Coffee, jl. Gunawarman 24, yang dimiliki oleh Arris Aprillo, juga penggagas Kopi Keliling. Di tempat inilah mereka sering menuangkan coretan2 grafis sambil ditemani secangkir kopi, sebuah minuman yang sudah menjadi bagian dari aktivitas mereka sehari-hari. “Entah kenapa, kopi membuat obrolan menjadi lebih akrab dan tentu saja teman begadang para artis” kata Arris dan Raymond. Kegiatan seni mereka lebih serius dan para anggotanya sudah banyak mendatangi berbagai kedai kopi di Jakarta.

Kopi Keliling pada intinya sebuah kolaborasi seni yang menjadikan kopi sebagai tema utamanya, sebuah apresiasi terhadap minuman yang sudah ada di negeri ini sejak abad ke-16. Mereka melihat bahwa minuman ini sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan kultur masyarakat Indonesia. Di Tornado Coffee mereka menggelar hasil berkesenian 10 anggotanya yang menampilkan karya terbaik dari seniman seperti Thunderpanda, kolektor mainan yang masterpiece-nya sudah melanglang buana dari New York hingga Kuala Lumpur. Artis lainnya seperti Hendy Musa pendiri Ape Republic yang juga Art Director biro iklan di Jakarta, Emte (Muhammad Taufiq), Lala Bohang, Bugsy, Moreza, Motulz, Dmaz Brodjonegoro, yang kesemuanya merupakan ilustrator, fotografer, komikus, dan desainer grafis.

Kopling berpendapat seni adalah hak setiap individu yang bebas mengekspresikan idenya, terlepas apakah orang itu disebut seniman atau bukan. Komunitas ini mengajak siapa saja untuk menuangkan coretan, desain, dalam berbagai bentuk dan media apapun untuk membawa seni ke ranah publik tanpa harus mendatangi berbagai galeri seni yang serius. Kalau Anda datang pada acara ini, mereka akan menyediakan kertas, pensil, dan spidol dan mengajak untuk menuangkan kreasi sebebas mungkin.

Di negara Amerika kegiatan yang kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan Kopling juga sering dilakukan untuk mengajak publik lebih mengapresiasi seni. Chichago Art Museum misalnya di bulan Maret 2010 lalu pernah membuat event khusus untuk publik dengan judul  “Coffee, conversation and great artworks” karena mereka juga meyakini bahwa  secangkir kopi bisa membuat perbincangan lebih hangat, sebagaimana acara serupa yang diadakan oleh Indian Pueblo Cultural Center.

Jadi saya mengajak Anda, baik penggemar kopi atau bukan untuk menikmati hasil karya artis Indonesia yang menjadikan kopi sebagai tema utama coretan mereka. Saya sepenuhnya percaya bahwa seni sebagaimana yang dilakukan oleh Kopling adalah sebuah media ampuh untuk menghaluskan perasaan kita dan yakinlah kita semua memerlukan itu.

* * * *

*) Arris Aprillo.

Raymond Malvin dan saya yang kalau sudah gila gak nanggung  🙂

7 replies
  1. Enrico
    Enrico says:

    Mengomentari foto ketiga dari bawah :
    Dan begitupun dengan menikmati segelas kopi. Bebas mau digimanain. Kopi aing kumaha aing!

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Kopikita Semarang, toniwahid and JesHiTa Passat, kopikeliling. kopikeliling said: @KopiKeliling at Cikopi.com – blognya pecinta kopi 😀 http://tinyurl.com/4donkmq | cc: @toniwahid […]

Comments are closed.