Epic Coffee di Jogjakarta

waskito aji

Di sebuah hotel kota Jogjakarta, Darma Santoso (44) dan saya berbincang hangat tentang rahasia bisnis pemilik puluhan restoran yang dilahirkan oleh tangan dingin arek Suroboyo ini. “Jangan pernah anggap enteng daya beli masyarakat sebuah kota, ciptakan kebutuhan dengan produk terbaik” saat ia memberikan tips praktis kepada saya. Tentu saja Darma telah membuktikan perkataannya saat ia disarankan untuk tidak membuka restoran di sebuah kota yang dikenal dengan harga makanan yang relatif murah, tapi ia tetap ngotot dan ternyata sukses besar. Mantra tersebut kini dipraktekan oleh Waskito Aji (33) dengan Epic Coffee yang baru saja beroperasi dalam hitungan hari saat saya mampir di sana sehari sebelum Festival Kopi Indonesia di Jogja.

epic coffee jogjakarta

Epic itu menurut aji adalah sebuah cerita besar, sebuah epos, atau great story. “Bagaikan sebuah Epic, demikian juga cerita tentang kopi yang bermula saat benih mulai ditanam, dirawat dengan kasih, dipanen, lalu diproses sebagus mungkin hingga akhirnya diseduh untuk dinikmati. Kesemuanya merupakan rangkaian panjang dari narasi yang sering kali tidak kita sadari” kata suami Sari Wardani ini. Demikian cerita bagaimana akhirnya nama Epic Coffee dipilih setelah perlamunan panjang keduanya yang kebetulan sama-sama datang dari generasi ketiga pengusaha furniture yang produknya banyak diimport untuk pasar Amerika dan Eropa.

Keyakinan mereka bertambah setelah diajak mendaki perkebunan kopi Rantaya (lokasi Barista Boot Camp) oleh Nathanael Charis. “Waduh, betapa beratnya medan perkebunan kopi sehingga badan saya ringsek setelah melakukan pendakian panjang. Di titik itu saya sadar, betapa besar kontribusi dan kerja keras petani kopi Indonesia untuk menghasilkan komoditas ini di tengah medan yang sangat berat. Sebuah pengalaman berharga yang semakin memantapkan niat saya untuk terjun ke dunia ini” katanya saat bercerita tentang penderitaanya naik gunung di Pangalengan.

epic coffee jogja

“Sebenarnya begitu banyak persamaan antara kopi dengan pemilihan material furniture yang kami kerjakan. Sumber kayu yang bagus tentu akan menghasilkan hasil akhir yang baik pula. Itu prinsip yang kami jalankan dalam mengelola usaha furniture yang telah berumur puluhan tahu sejak masa mbah kami berdua” kata Aji melanjutkan.

Anda yang tinggal di Jogja bisa mengunjungi Epic Coffee yang berlokasi di jalan Palagan 29, sekaligus ruang pamer furniture cantik yang saat ini mulai merambah ke pasar domestik. Ruangan yang sangat luas di Epic Coffee tentu sangat menyenangkan dengan interior bergaya industrial warehouse New York yang dikerjakan dengan seksama oleh Sari yang juga sangat telaten memilih semua perlengkapan, termasuk bagian dapur dan pernik kecil sepertu cutlery.

epic coffee

Mesin penyaji kopi La Marzocco tipe Strada EP3 beserta penggiling kopi Mazzer Kony menjadi pusat operasi di Epic Coffee. Di sudut lain terdapat penggiling kopi merek Ditting tipe KR 408 yang dikhususkan untuk manual brewing selain Blendtec tipe Q, seri tertinggi dari blender yang iklannya bisa menghancurkan bola golf menjadi serpihan kecil.

Berbagai alat manual brewing-pun tersedia di Epic Coffee dan pengunjung bisa duduk di bar untuk berinteraksi langsung dengan barista di sini. Mengapa menggunakan produk high-end yang terbaik di kelasnya ? “Karena saya penganut mazhab atau aliran Toyota Production System (TPS), bahwa hasil akhir itu penting, tapi proses jauh lebih penting. Untuk menghasilkan produk terbaik perlu teknologi handal yang telah teruji” kata lulusan Teknik Industri saat mengemukakan alasan mengapa ia menggunakan produk yang kini digunakan di Epic Coffee.

“La Marzocco punya prinsip yang sama dan kebetulan pabrik furniture kami banyak menggunakan mesin buatan Italia yang sudah terbukti kehandalan dan kualitasnya selama puluhan tahun” tentang pilihannya pada mesin espresso yang dibuat di Florence, Italia.

epic coffee

Dengan rentang harga 17 hingga 35 ribu rupiah, Epic Coffee seakan meninggalkan khittah akan harga di Jogja yang terkenal bersahabat dengan kantung mahasiswa. Tapi diusianya yang belum sebulan Epic  Coffee secara perlahan sudah mulai dikenal termasuk tamu dari manca negara. Epic masih puas dengan dukungan salah satu pemasok kopi specialty dari kota Bandung dan belum merasa perlu untuk me-roasting kopi sendiri. “Saya masih nyantri ke banyak guru dan belum kepikiran untuk memproduksi kopi sendiri” kata Aji yang juga memberikan sentuhan racikan kopi di Ashoka, sebuah cafe yang berada di Kayu Arum Resort and Spa. Salatiga.

epix1

Bersama Sari sang istri,  Aji yang dulunya biasa mengkonsumsi kopi termasyhur dari Italia kini masih terus berbenah dan menancapkan bendera third wave coffee di kota Jogjakarta. Saat ditanya apa rencana ke depan mereka ? Dengan rendah hati Aji hanya menjawab bila ia tak punya rencana besar apapun karena ia hanya akan belajar dan bekerja sebaik mungkin.

Let coffee tell the story. Epic Coffee !

*  *  *

sari dan aji

epic coffee

epic coffee

epic coffee

kayu-arum

10 replies
  1. S^list^O
    S^list^O says:

    Aku sudah coba dengan tamu saya dari malaysa mantap coffeenya dan tempatnya okey .

  2. mia permata
    mia permata says:

    Keren banget interiornya ! Blend with the coffee it self… must visit !! Sesuai banget dengan ulasannya…

  3. Barista HENDRY
    Barista HENDRY says:

    Arek Suroboyo merambah perkopian di Jantung Jogja, cak Aji kapan opened di Suroboyo…

  4. Christina
    Christina says:

    Wahhh.. Makin mantap nih coffee culture di Indonesia. Setelah Jakarta, sekarang Jogja punya La Marzocco Strada. Habis ini di Surabaya juga ada satu Cafe mau buka pake La Marzocco Strada juga. Semoga makin banyak cafe-cafe begini di Indonesia.

  5. sandalian
    sandalian says:

    Beberapa hari yang lalu saya ke Epic ini, tempatnya sungguh nyaman dan desainnya sangat menarik. Dan pertama kali saya pegang chemex di sini 🙂

  6. Chakra
    Chakra says:

    Nice one! bakal sempatin waktu buat ke sana kalo lg di Jogja. Sukses terus Mas Aji dengan Epic Coffee-nya dan Mas TW dengan penyajian artikel cikopi-nya yang “easy-reading” and mesmerizing.

Comments are closed.