Tak perlu pasokan listrik hingga ribuan watt seperti mesin espresso pada umumnya karena alat seperti Flair didesain untuk dioperasikan secara “unplugged” atau cukup dioperasikan dengan tangan. Flair versi sebelumnya sudah pernah saya ulas sebelumnya Flair : Pembuat Espresso Manual. Tapi yang satu ini agak lain, karena sudah dilengkapi dengan “pressure gauge” atau manometer hingga pengguna bisa melihat tekanan seduh (brewing presure} saat alat ini digunakan. Ulasan selengkapnya di bawah ini.

Menggunakan Flair itu … Supaya bisa langsung mengetahui bagaimana performanya, saya tak perlu mengupas dari awal unboxing karena pada dasarnya kedua versi hampir sama. Jadikita langsung saja pada poin utamanya dan bila Anda yang baru membaca artikel ini, silakan dilihat tautan sebelumnya tentang Flair. 

Berikut ini beberapa kesan umum tentang Flair versi terbaru.

  • Sebagaimana versi terdahulu, Flair dirancang dengan material gabungan antara besi dan stainless yang sangat solid. Berat secara keseluruhan mencapai hampir 2 kg atau tepatnya 1.896 kg.
  • Mudah dibongkar pasang dengan faktor portabilitas hingga bisa dibawa kemana saja.
  • Walau ada perbedaan sedikit seperti bentuk screen yang tanpa karet silikon disekelilingnya seperti pada Flair terdahulu, selebihnya dipastikan tak ada perbedaan yang signifikan.
  • Aksen rose gold pada penampang bejana merupakan “face lift” tersendiri yang menambah eksan elegan pada Flair Pro.
  • Pressure Gauge adalah fitur yang memang ditujukan bagi para pengguna yang menginginkan presisi dan kontrol dalam setiap tahap seduhnya. Dengan alat ini membuat pengguna bisa meregulasi berapa banyak tekanan yang akan dihasilkan dalam keseluruhan waktu pembuatan espresso.
  • Pengaturan tekanan seduh yang bisa dilakukan dengan Flair Signature Pro merupakan sebuah fitur penting yang layaknya seperti “pressure regulator” pada mesin espresso kelas atas.
  • Perlu banyak latihan agar fungsi “pressure gauge” bisa dimanfaatkan secara optimal karena protokol pembuatan espresso harus benar-benar diikuti terutama dari pengalaman saya adalah tingkat kehalusan bubuk kopi. Seringkali jarum hanya bertengger di awal atau di tengah dan enggan beranjak karena mungkin bubuk kopi terlalu halus, atau bisa juga tamping hingga distrubusi yang tak merata.
  • Flair itu mudah digunakan kalau hanya untuk mengeluarkan krema tebal selama kopi yang digunakan masih dalam “periode” seduh.
  • Suhu air agak sulit dikontrol dan cepat dingin diserap oleh bejana stainless hingga menghangatkannya wajib dilakukan. Walau bejana sudah cukup hangat, pengguna harus bergerak cepat dengan memasukan air dalam kisaran suhu setidaknya di atas 95an derajat agar bila terjadi penurunan suhu pun masih bisa ditoleransi.
  • Satu hal yang menurut saya kurang praktis adalah penutup “chamber” yang selalu harus digeser ke bagian atas setiap kali kita akan membuat espresso. Ini catatan penting bila alat ini akan digunakan untuk keperluan pembaca yang ingin membuka warung kopi dengan menggunakan Flair.

Flair vs ROK Presso pilih mana ? Ini pertanyaan yang paling sering muncul dan saya akan mencoba menjawabnya dari sudut pandang sebagai pengguna kedua alat ini di rumah.

  • Harga tak jauh berbeda antara keduanya. ROK Presso saat tulisan ini dipublikasikan berkisar antara 2,6 jutaan sama dengan Flair, sedangkan yang versi PRO lebih mahal 200 ribu.
  • Rancang bangun. Kualitas kedua alat ini tak jauh berbeda, masing-masing dibuat untuk digunakan dalam jangka panjang atau dengan kata lain, handal. Kalaupun ada masalah flair
  • yang retak di ROK Presso karena digunakan dalam keperluan komersial sekarang sudah banyak pengganti komponen tersebut dengan material yang lebih kuat.
  • Portafilter. ROK presso menggunakan jenis portafilter sebagaimana yang terdapat pada mesin espresso pada umumnya walau dengan ukuran yang lebih kecil atau hanya berdiameter 50mm. Sedangkan pada Flair, fungsi ini digantikan dengan porta tanpa gagang yang ukurannya 47mm.
  • Screen. Terdapat screen (45mm) tambahan pada Flair yang diletakan di atas kopi, fitur yang tidak terdapat pada ROK Presso yang sudah mengintegrasikan shower screen di bawah bejana tempat air panas.
  • Kemudahan Pengoperasian. Ini bagian paling penting, keduanya relatif mudah digunakan. Flair cukup dioperasikan dengan menggunakan 1 tangan untuk menekan tuasnya. Sedangkan pada ROK pengguna harus menggerakan 2 tuas secara bersamaan. Satu hal yang sama, perlu tenaga yang cukup kuat untuk memberikan tekanan yang pas, kalau keseringa ya lumayan … lemes.

Tapi saya melihat ROK Presso terasa lebih praktis. Giling, dosing, masukan kopi ke porta, tamping dan seduh. Setelah selesai tinggal ketuk porta untuk membuang ampas kopi atau puck.

Nah, pada Flair, prinsipnya hampir sama, tapi karena ketiadaan gagang, rasanya sedikit agak repot membersihkan puck dari dalam porta. Mungkin hanya kebiasaaan, tapi sejauh ini saya merasakan ROK sedikit lebih praktis untuk penggunaan terus menerus.

Tak mudah menentukan mending yang mana, deduanya punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tinggal pilihan pengguna dan kenyamanan menggunakan salah satu dari ekdua alat seduh manual ini.

Mohon dimaafkan bila ada informasi yang salah atau kurang lengkap, silakan ditambahkan apda kolom komentar.

Di bawah adalah kumpulan foto Flair Signature Pro. 

Unboxing. Flair sudah dilengkapi dengan koper kecil untuk menyimpan semua kelengkapan yang tertata dengan rapi. Di dalamnya selain unit, terdapat kelengkapan seperti yang terdapat pada foto di bawah ini.

Pressure Gauge. Atau manometer untuk melihat berapa banyak tekanan seduh dalam satuan bar. Tekanan ideal yang direkomendasikan melalui jarum penunjuk terdapat di antara angka 5 hingga sedikit di bawah 10 bar.

Bejana atau chamber merupakan komponen utama yang beratnya mencapai setengah kilogram yang terbuat dari material stainless. Cukup berat dan dibuat sedemikian rupa untuk menjaga suhu air tetap hangat.

Dudukan Flair. Dua bagian terpisah antara dasar dan tuas, terbuat dari material besi yang dicat berwarna hitam doff. Secara ergonomis, tuas enak dipegang dan naik turun tanpa kendala dalam keadaan tanpa beban.

Bagian-bagian lain seperti tamper plastik dan stainless, porta, screen, tak perlu dijelaskan lebih lanjut karena hampir sama dengan Flair versi sebelumnya.

Terima aksih Otten Coffee yang sudah berbaik hati meminjamkan alat ini.

Menggunakan Flair. Melihat krema tebal yang berwarna coklat keemasan yang keluar dari shower screen Flair adalah kenikmatan tersendiri. Saya menggunakan kopi sebanyak 16 gram sebagaimana yang direkomendasikan oleh pembuatnya dan digiling halus sebagaimana untuk mesin espresso komersial pada umumnya.

Mencari kehalusan yang pas memerlukan grinder yang khusus untuk espresso, tapi bila tak ada, cukup penggiling kopi manual selama Anda kuat memutar tuasnya.

Flair menyediakan 2 jenis tamper, plastik yang berbentuk slinder dan tamper biasa dari stainless. Keduanya enak untuk digunakan, walau yang stainless jauh lebih nyaman tentunya.

Siapkan air dengan suhu sekitar 95an derajat dan masukan ke dalam bejana yang bagian dalamnya sudah ditekan ke bagian atas dan pasang “pressure gauge”. Jangan lupa untuk memanaskan “bejana” sebelum digunakan atau “pre-heat” agar panas air tak cepat hilang.

Tempatkan pada kedudukan yang sudah disediakan dan mulai gerak tuas perlahan. Tekanan semakin lama semakin berat saat jarum di pressure gauge mulai menaik. Kadang tertahan manakala bubuk kopi terlalu halus hingga perlu beberapa kali percobaan untuk mencari ukuran yang pas.

Percobaan yang saya lakukan tidak langsung berhasil, tapi perlu beberpa kali untuk lebih membiasakan cara kerja alat ini. Tapi benang merah yang paling penting adalah pemilihan kopi yang benar-benar masih “segar bugar” dan “grind size” yang merupakan 2 faktor penting.

Itu saja pengalaman singkat menggunakan Flair yang memiliki desain menarik bagi siapapun yang ingin menghasilkan espresso tanpa harus membeli mesin bertenaga listrik.

 

* * *

3 replies
  1. Sutan Basa
    Sutan Basa says:

    Mas Toni, skalian minta sarannya untuk grinder yg recommended untuk “patner” si flair (manual atau otomatis) dan kalau ada jangan lebih mahal dari flairnya :). terima kasih.

    Reply
  2. Ardi
    Ardi says:

    Halo, ingin menanyakan terkait model yg disebutkan di artikel ini aoakah signature pro? Karena harga di otten berbeda (4.7jt) berbeda dengan yg disebutkan. Terima kasih

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *