Perjalanan yang dibiayai oleh kantor tentu punya keterbatasan untuk hal-hal yang urusannya pribadi. Acara yang padat dari pagi hingga sore hari dan hampir selalu ditutup oleh makan malam bersama untuk akhirnya kembali ke hotel pada saat menjelang larut malam. Buat yang mendambakan pekerjaan kantor dengan aktivitas ke luar negeri dan menganggap sebagai hal yang glamor ada baiknya merevisi kembali pendapatnya. Tak selalu demikian dan diperlukan stamina prima untuk melawan jam kerja yang panjang setelah perjalanan melelahkan dari Indonesia. Tapi saya selalu menyempatkan mencuri waktu untuk berkunjung ke berbagai cafe menarik, Milo Coffee Roaster di Hongdae.

Sebelum membahas tentang Millo, kota Seoul punya banyak cafe yang bertebaran di setiap sudut kotanya sebagaimana yang kita temui di Jakarta. Tapi bila Anda ingin yang lebih spesifik sebuah cafe yang menyediakan kopi spesial tentu perlu sedikit kejelian dan informasi dari rekan kantor yang punya kegemaran sama dan area Hongdae adalah must visit list. 

Hongdae salah satu pusat seni kontemporer, film, band indie, fashion, resto dan cafe chic, dan berbagai “keanehan” ala Korea yang hanya bisa ditemukan di kawasan yang sekaligus merupakan lokasi Universitas Hongik. Dua tahun yang lalu saya pernah menjelajahi tempat ini dan untuk kedua kalinya masih merasakan atmosfir yang sama, sebuah hype saat anak-anak muda Korea mulai memberikan alternatif berkesenian di panggung dunia. Juga untuk urusan kopi, Hongdae adalah salah satu lokasi yang saya rekomendasikan, salah satunya Millo Coffee Roaster yang menjadi target pertama kunjungan saya.

Hwang, Don Gu, pemilik sekaligus pengelola Millo tengah sibuk melayani pengunjung yang lain saat saya memasuki cafe-nya. Sayang ia tak bisa berbahasa Inggris, namun tentu menyambut kedatangan kami dan segera menyiapkan pesanan yang ia rekomendasikan dari menunya.  Mesin roasting merek Jerman yang terkenal itu menjadi bagian tak terpisahkan di Millo dengan balutan warna emas pada drum-nya. Hwang mengkonfirmasi pertanyaan saya bahwa mesin goreng kopinya berkapasitas 5 kilogram walau sayangnya ia baru saja menyelesaikan kegiatan roasting untuk hari itu.

Tampak di bar, satu mesin espresso La Marzocco dengan dua buah grinder Mazzer  yang menjulang raksasa. Di rak lain terdapat hasil roasting Hwang yang masih didominasi oleh kopi dari Amerika Tengah dan Selatan. Menurut Huang, Ia masih menghadapi kendala teknis untuk mengimport kopi dari Indonesia yang menurutnya banyak digemari oleh orang Korea walau tidak secara spesifik menjelaskan kesulitannya.

Interior dengan warna putih dan furniture kayu serta luas tak lebih dari 50an meter, cukup menciptakan suasana intimate di Millo. Apalagi Hwang bukan hanya punya peralatan kopi kelas atas, ia juga memajang audio sekelas McIntosh untuk memperdengarkan musik-musik kontemporer.

Sayang percakapan ini terkendala bahasa, tapi Hwang sangat berterima kasih atas kunjungan saya setelah tahu bahwa yang sedari tadi mengajaknya berbincang adalah penulis kopi dari Indonesia. Ia lalu mendemonstrasikan pembuatan kopi yang diseduh dengan alat Aeropress lalu memberikan 250 gram kopi jagoannya sebagai bingkisan buat saya.

Harga pada menu di Millo berkisar antara 50 hingga 70 ribu rupiah untuk kopi hitam atau yang dicampur dengan susu.

*  *  *

 

 

13 replies
  1. hanny
    hanny says:

    di foto terakhir…..kliatan dikit audio equipment yang bikin ngiler
    MACINTOSH

    kopi dan audionya didukung pralatan yang luar biasa…
    4 thumbs up!!!

    McIntosh 🙂

  2. Ismail Malik
    Ismail Malik says:

    Akhirnya Update lagi..dari kemaren buka cikopi belum ada psotingan baru… Pertama kali nyalain kompie trus browsing internet pertama yang dibuka pasti blog kang Tony :), Cafenya kecil tapi alatnya maknyusss..ditunggu liputan yg lain sama foto2nya

    Part 2 sudah publish …

  3. zaki
    zaki says:

    Salut buat integritasnya kang Tony untuk Cikopi.com hehehe, walau capek tetap semangat nyari referensi baru buat pembaca setia cikopi (two thumbs up)

    Ya lumayan, curi2 waktu, supaya pembaca tetap ada asupan kafein yang kali ini dari Korea.

  4. sutrisno
    sutrisno says:

    Wuah..cappuccino yang cantik..toko yang komplit..ini yang ada mahlkoenig-nya pak Toni?manteb nih jalan2nya..kapan ya di Indonesia bisa seperti itu budaya kopi-nya??hmmm…

Comments are closed.