Jadilah seperti seorang Muhammad Fakhri (27) penyandang disabilitas pertama yang baru saja meraih gelar sebagai penyeduh kopi nomor 1 se-Indonesia daam event Indonesia Brewers Cup tahun 2019.

Sebuah prestasi yang wajib dibukukan dalam narasi kopi di Indonesia. Tulisan singkat tentang pria kelahiran Samarinda, Kalimantan Timur dan secuplik perjalanannya dari dunia Psikologi dan Kriminologi ke ranah kopi.

Tak Sekalipun Menang. Fakhri harus melalui perjalanan cukup panjang untuk sampai ke saat dimana ia akhirnya menjadi pemenang IBRC tahun ini.

Pasalnya sudah banyak lomba-lomba seduh yang ia ikuti, namun tak satupun namanya pernah dipanggil, bahkan sebagai seorang finalis sekalipun.

Malah ia pernah merasa begitu frustasi karena namanya hanya tercantum diurutan ke-60 dari 90an peserta pada acara Bandung Brewers Cup tahun 2017.

Clever Dripper, alat seduh yang ia gunakan saat lomba belum memberikan keberuntungan buat Fakhri. Ujung-ujungnya, selama satu minggu, Fakhri sama sekali tak mau bersentuhan apalagi meminum kopi.

Juara 3 IBRC 2018. Setelah selesai dengan kekecewaannya, Fakhri membantu salah satu rekannya yang ikut bertdanding di ajang IBRC tahun 2017. Dari pengalamannya menjadi “asisten” membuatnya tahu apa-apa saja yang harus dipersiapkan.

Kala itu Fakhri hanya bertugas mencari “grind size” atau tingkat kehalusan kopi yang akan digunakan untuk lomba.

Berbekal kerja lapangan tadi, Fakhri memberanikan diri maju di pentas nasional IBRC wilayah Barat di tahun 2018 dan berhasil meraih peringkat 3 sebelum akhirnya dikukuhkan sebagai penyeduh kopi terbaik di tahun 2019 ini.

Juara IBRC 2019 dan Resep Kemenangannya. Apa resep kemenangannya di arena IBRC 2019 ? Fakhri berbagi tugas dengan tim pendampingnya agar konsentrasi tak buyar saat tampil nanti.

Caranya dengan mempercayakan pemilihan kopi, roasting dan racikan air kepada rekan satu tim-nya. Ia hanya fokus pada apa yang ingin ia sampaikan serta sistematis aliran kerja atau work-flow saat bertanding.

“Ini penting karena bila semua dikerjakan sendiri, seringkali akan sulit menerima masukan dari siapapun” katanya.

Tangan Kiri dan Kontak Mata. Fakhri berusaha tampil maksimal saat presentasi dan tahu benar detail-detail yang harus ia kerjakan selama 10 menit waktu yang tersedia.

Ada saat ia menyerahkan kopi hasil seduhannya kepada para Juri, Fakhri tak lupa mengucapkan kata maaf karena terpaksa harus menggunakan tangan kiri.

Hal yang sering dianggap kecil, tapi seyogyanya berdampak positif atas keseluruhan penampilan sarjana lulusan Psikologi Universitas Dipenogoro.

Work Flow. Baki saji adalah alat sederhana yang juga sering luput dari penampilan para peserta. Padahal dengan alat ini, peserta bisa mengatur penampilannya dengan rapi dengan cara meletakan semua peralatannya di atas baki tanpa harus bolak-balik memboroskan gerakan saat bertanding.

Customers Service, Uniformity, Workflow adalah 3 nilai tertinggi yang ia raih karena menurut Fakhri, untuk urusan rasa kopi, hampir semua peserta punya kopi jagoan masing-masing yang diyakini sudah layak tampil. Jadi tinggal masalah bagaimana mendapatkan nilai setingi-tingginya dalam aspek penilaian seperti “customer Service” contohnya.

Terakhir, menurut Fakhri, temukan gaya sendiri dan tak harus meniru penampilan orang lain.

Grind Size Tak Harus Rata. Saya melihat persiapan Fakhri berlatih sambil mengoperasikan alat penggiling kopi Commandante Nitro C40.Grinder ini seperti EK43 (Mahlkonig) portabel dan hasilnya tak terlalu seragam. Justru membuat kopi tidak one dimensional” ujarnya sambil terus memutar tuasnya.

Memperhatikan setiap gerakannya, tak sedikitpun terlihat kagok, sambil menimbang 15 gram kopi yang akan disiram air panas sebanyak 230 mg, rasio sederhana yang selama ini ia gunakan. Menurut Fahri ”

Alasannya sederhana, cuma karena mudah diingat dan bila kopinya terlalu tipis tinggal kurangi sedikit airnya”. Berapa kali tuang ? Cukup 3 kali, 50, 100, 80mg.

Memilih spesialisasi manual brewing karena memang sesuai dengan minatnya setelah sebelumnya pernah menimba ilmu di ABCD School of Coffee. “Alatnya juga bisa dibeli dengan harga terjangkau” kata Fakhri sambil terkekeh.

Dua Pesan Penting. Fakhri sudah mengirimkan pesan penting kepada khalayak kopi di Indonesia.

Pertama, bahwasanya siapapun tanpa harus menjadi pekerja di industri kopi bisa menjadi penyeduh kopi yang bagus sekaligus menyabet gelar juara pada event Indonesia Brewers Cup.

Kedua, dan ini paling penting bahwa “disabilitas” sejatinya merupakan “kapabilitas” sebagaimana yang sudah ia buktikan dan diharap menjadi inspirasi bagi siapapun.

Saya setuju dengan Hendri Kurniawan, yang menyatakan “Apapun hasilnya nanti, he will rock the stage in Boston!” 

* * *

 

2 replies
  1. David Marpaung
    David Marpaung says:

    Satu hal yg banyak BARISTA tidak punya… yaitu MENTAL JUARA!!!!
    Congrats buat Julak Fakhri…

Comments are closed.