seattle

Pagi kemarin di kotak surat elektronik saya menerima surat dari salah satu pejabat di Atase Perdagangan Kedutaan Besar Amerika di Washington. Beliau, tidak usah saya sebutkan namanya, meminta beberapa masukan yang pada intinya agar booth Indonesia lebih menarik dan punya daya jual pada event besar SCAA Exposition yang akan berlangsung di kota Seattle, akhir April mendatang.

Dalam kapasitas saya yang tentunya sangat terbatas dalam memahami lansekap perdagangan kopi dunia, beberapa usulan yang saya sebut “my 2 cents opinions” diangkat dalam surat menyurat tersebut. Kesemuanya berdasarkan pengalaman menarik selama mengikuti event yang sama di kota Boston tahun 2013 kemarin.

Pertama, saya mengangkat bahwa tujuan negara ini hadir dalam event sebesar Exposition tentu tidak akan pernah terlepas dari urusan promosi perdagangan yang dalam hal ini komoditas kopi. Jadi bila itu agenda besarnya, maka ada baiknya bila pemerintah dan segenap stakeholder sudah jauh-jauh hari mengadakan persiapan yang matang.

s11

Kompetisi terbuka

Di era transparansi ini, saya sangat mengharapkan bahwa publik diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berpartisipasi dalam event tersebut. Publik yang saya maksud termasuk para petani kopi nun jauh di pelosok yang punya potensi produk yang bagus.

Kalau kita menyebut kopi yang “bagus” tentu harus punya parameter atau ukuran yang bisa bisa diterima oleh semua pihak. Dengan kata lain, sejak setahun lalu saya pernah mengusulkan, baik kepada pihak pemerintah dan atau Asosiasi Kopi untuk menyelenggarakan sebuah acara kompetisi kopi se Indonesia sebagaimana acara Lelang Kopi yang sudah dua kali diselenggarakan.

Dengan mekanisme kompetisi yang sama, melalui penjurian para penlis Q/R Grader, kita akan bisa menseleksi kopi-kopi dari daerah mana saja yang berhak ditampilkan pada acara tersebut melalui sebuah kompetisi yang terbuka bagi siapa saja. Tambahan lagi, supaya menghindari bias, saat penjurian nama dearah kopi diganti dengan kode tertentu, selain untuk menjauhkan konflik kepentingan.

Cukup adil bukan ? Sebuah seleksi terbuka yang memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada seluruh pelaku industri ini untuk tampil di arena internasional.

Image, image, image … 

Kedua, kopi yang sudah disahkan untuk dikirim tentunya harus dilengkapi dengan katalog yang sangat lengkap yang berisikan asal muasal kopi tersebut, karakter rasa dan semua informasi teknis berikut kontak yang bisa dihubungi. Katalog adalah hal yang lumrah disediakan di setiap booth negara lain, dan ironisnya negara-negara Afrika peserta pameran bisa memiliki katalog yang sangat representatif pada saat event kemarin.

Jangan salah, kita juga punya katalog, cuma sayangnya kurang terintegrasi dan sedikit polesan “public relations”. Maksudnya, sebuah kisah yang menarik dibalik kopi tentu bisa dijadikan sebagai nilai tambah untuk “marketing gimmick”. Saya tekankan kembali, kita harus lebih agresif dan menempuh cara yang cerdik untuk menarik minat pengunjung dan calon pembeli potensial.

Booth Indonesia

Pernah meraskan rasa nasionalisme Anda menggelora saat berada di luar negeri. Saya yakin jawabannya iya karena kita akan jauh lebih menghargai negara ini, terlepas dari carut marut yang terjadi, dan itu biasanya terjadi pada saat Anda bepergian ke negara lain. Saya ingin sekali melihat booth Indonesia yang tak perlu mewah, tapi setidaknya lebih “engage” (maaf saya tak punya kata Indonesia yang pas).

Sebuah booth yang punya karakter keindonesiaan yang kuat dan tentunya hal ini bisa ditangani oleh para desainer atau kontraktor di dalam negeri. Itu dari sisi penampilan untuk menampilkan produk kopi hasil kompetisi.

Sebelum saya lupa, tahun kemarin hanya ada tiga termos panas, yang kadang terisi penuh dan lebih banyak kosong sehingga agak ngenes bila melihat pengunjung yang kecewa saat kopi tak tersedia. Sementara di booth lain, belasan termos tersedia dengan petugas yang sigap melayani pilihan pengunjung.

Mereka tidak peduli kalau saya bukan pembeli potensial, di booth Columbia dan negara-negara Amerika Latin, para Q Grader-nya terjun langsung menjelaskan keebihan kopi mereka. Saya kagum dengan kegesitan mereka dan tak sekalipun memandang sebelah mata pun bahkan untuk orang awam sekalipun seperti saya.

Hal yang sama saya rasakan di banyak gerai negara lain termasuk India yang diam-diam terus berekspansi dengan salah satu ruang pamer terluas.   

Jadi saya sangat mengharapkan adanya peralatan yang lebih lengkap dengan para petugas yang selalu siap agar pengunjung bisa secara bebas mencicipi kopi kebanggan Indonesia.

Portrait of The Country

Saya tidak tahu kapan terakhir Indonesia menjadi “Portrait of The Country”, dan tahun ini kembali Peru sebagai negara Amerika Latin setelah sebelunya El Salvador tampil pada acara pembukaan. Sebagai negara produsen kopi lima besar dunia, tentu harus lebih mengintensifkan lobi dan pendekatan agar Indonesia juga bisa tampil.

Bila negara kecil seperti El Salvador saat presentasi sebagai “Portrait of the Country” menggemborkan kegiatan Corporate Social Responsibility atau CSR pada saat pembukaan event, saya yakin negara ini juga punya banyak kegiatan CSR lokal yang belum terekspos.

Flavor itu penting

Bila negara Ethiopia mempresentasikan “Ethiopian Coffee Ceremony”, rasanya tak kurang atraksi kopi yang bisa di bawa ke Seattle. “Wing Kupi” Aceh, Nyethe, menumbuk kopi dengan alu sebagaimana di pedesaan, ah daftarnya masih banyak atraksi lain yang bisa ditampilkan untuk menarik minat pengunjung di sana.

Penutup

Saya tidak banyak berharap jika tulisan ini bisa diaplikasikan, minimal sebagai keinginan saya dan mungkin banyak pihak untuk merasakan kebanggaan saat memasuki gerai negaranya di pameran SCAA. Tentu bukan kebanggan yang semu sifatnya, karena saya tahu nun jauh di pegunungan sana, para petani kopi sudah mencurahkan segenap keringatnya juga diuntungkan dalam acara akbar ini.

Terakhir, boleh jadi kopi dulunya ditemukan di Afrika, tapi jangan lupa, rumah besarnya ada di Indonesia !

*  *  *

7 replies
  1. Ribka Lim
    Ribka Lim says:

    Saya jarang sekali melihat booth (Paviliun) kopi Indonesia yang berada di luar negri menarik perhatian khalayak banyak. Contohnya, pada pameran CAFEASIA di Singapura tahun lalu, booth Indonesia hanya diisi dengan 1 banner, 1 kursi dan 1 meja kosong tanpa ada yang jaga. Sayang sekali space nya disia-siakan. Mohon dari pihak pemerintah/asosiaso kopi di Indonesia terkait lebih serius lagi sewaktu pameran. Semoga industri perkopian Indonesia semakin Jaya!

  2. AyuMarthini
    AyuMarthini says:

    Pak Toni: terima kasih atas masukan2nya yg brilian (always!) ….tahun ini kita upayakan sekuat tenaga (even harder) agar representasi kopi spesial Indonesia di SCAA Seattle lebih baik, ujung ujungnya meningkatkan ekkpor dan mensejahterakan petani. Jangan sungkan-sungkan kasih masukan ya…..

  3. Adiarsa
    Adiarsa says:

    Semoga semua suggestion bisa di pikirkan dan ditampung, saya sempet ke Melbourne Coffee Expo 2013, sayang seribu sayang booth Indonesia buka stand diberi nama KJRI Melbourne, mestinya sebagai KJRI bisa menyatukan semua perwakilah dari Indonesia dan diberi nama yang lebih menjual seperti Indonesia Specialty Coffee, sayangnya lagi mereka cuman jual kopi bubuk sachet. Inginnya kalau bisa seperti roaster2 specialty kopi Indonesia bisa dapat kesempatan untuk menjualnya dengan lebih baik….

  4. Andreas
    Andreas says:

    Hmmmmm “Kopi Tarek” juga boleh tuh, krn di bilangan Sumatra mengarah ke atas itu sangat populer, plus kudu dipromosikan krn mengandung “Robusta” juga …..

  5. kasmito
    kasmito says:

    negara kita kurang #maintenance, coan terus tebalin kantong sendiri atau korporasi dan #csr sangat minim. bukan cuma kopi, tapi dalam segala hal. semoga pemimpin baru bisa berubah visinya.

Comments are closed.