Roasting Dengan Oven Listrik

r1

Jika Anda punya oven listrik di rumah yang lebih sering dijadikan pajangan, mengapa tidak sesekali dimanfaatkan untuk menyangrai kopi. Ini yang saya lakukan saat libur lebaran kemarin saat persediaan kopi sudah dalam keadaan darurat dan melihat sisa biji kopi yang belum diolah. Ternyata alat yang biasanya digunakan untuk memasak kue pun jadilah untuk digunakan menyangrai kopi.

r8

Oven listrik yang saya gunakan merupakan tipe alat rumah tangga yang biasa dijual di pasar swalayan elektronik dengan volume 18 liter. Bukan tipe convection oven yang menggunakan kipas untuk meratakan panas yang biasanya berharga jauh lebih mahal, tapi tipe biasa yang dilengkapi dengan pengatur suhu, sumber/arah panas (atas, bawah, atas keduanya atas dan bawah), serta waktu atau timer.  Jangan lupa rayu dulu pasangan Anda agar diizinkan menggunakan peralatannya. Bila semua sudah beres, mari kita mulai.

Sebelumnya persiapkan terlebih dahulu aluminium foil untuk melapisi tray, timbangan, dan satu sendok kayu. Tapi hal pertama yang harus diperhatikan bahwa me-roasting kopi akan menghasilkan asap yang cukup banyak, jadi saya selalu melakukannya di halaman rumah.

r2

Saya menimbang sebanyak 150 gram kopi Gayo yang diproses secara natural yang diletakan di baki oven. Sebelumnya oven sudah dipanaskan terlebih dahulu hampir setengah jam dengan suhu yang dipilih 180 derajat Celsius. Mengapa 180? Tak ada alasan khusus, Anda bisa memilih panas tertentu sembari melihat bagaimana kecepatan roasting dan rasa yang dihasilkan.

Biasanya oven listrik dilengkapi dengan penjepit khusus untuk mengeluarkan tray-nya agar tangan Anda terhindar dari panas. Bila tidak ada, sebuah tang jepit bisa dimanfaatkan, dan itu yang saya lakukan.

Saya mulai memasukan kopi ke dalam oven dan menunggu beberapa menit, lalu mengeluarkannya untuk meratakan panas pada bini kopi. Demikian secara terus menerus selain mengeluarkan asap yang mulai banyak dihasilkan terlebih pada saat waktu menunjukan lebih dari lima menit. Selama proses roasting berlangsung tak ada perubahan suhu, jadi panas tetap dipertahankan di suhu awal, 180 derajat.

Pada menit ke-10 mulai suara crack terdengar dan kembali kopi dikeluarkan sambil meratakannya dnegan sendok kayu. Asap semakin sering terlihat dan kadang saya membiarkan pintu oven terbuka beberapa saat sambil mengusir asap dengan kipas. Akhirnya proses roasting berakhir di menit ke-15 saat crack kembali terdengar dan warna biji kopi sudah semakin gelap.

r3

Kipas digunakan untu mendinginkan biji kopi hasil roasting dan hasilnya saya pindahkan sebagaimana foto di bawah. Sebagaimana yang sudah diperkirakan memang susah untuk masalah keseragaman warna, tapi saya tidak akan buru-buru menghakimi hasilnya sebelum mencoba sendiri keesokan harinya.

Kopi sudah didiamkan selama 24 jam dan tentunya penasaran dengan hasil roasting dari alat oven listrik ini. Sebanyak 120 gram kopi hasil roasting saya simpan dan terus dinikmati hingga habis dan berbaiat untuk menggunakannya kembali pada kesempatan selanjutnya.

Siapa sangka alat oven listrik bisa menghasilkan kopi yang layak minum terlepas dari beberapa kekurangannya terutama bonus aroma asap, warna yang tak seragam. Tapi sebuah oven listrik kelas rumahan yang bisa dimanfaatkan untuk home roasting, sudah lebih dari cukup buat saya.

Anda penasaran tentunya untuk mencoba sendiri. Silakan berbagi pengalaman untuk pembaca di sini bagi yang sudah mempraktekannya.

*  *  *

r4

r5

r7

16 replies
  1. Tjhai
    Tjhai says:

    Wah kebetulan baru aja kemarin iseng nyoba rosting menggunakan oven listrik. Ternyata di sini uda dibahas.

    Pengalaman saya, oven dipanaskan 5 menit aja sih (kalo kelamaan makan listrik banyak bisa diomelin :p). Suhu 175’C, api atas bawah, menggunakan tray ayakan tepung dari stainless steel. Sekitar menit ke 6 mulai crack pertama. Ditungguin bentar sampai crack selesai, dikeluarin buat ratain biji, lalu dimasukin lagi. Selama proses keluar/masuk tray oven tetap nyala.

    Nah dari setelah dimasukin lagi sampai crack ke-2 rasanya lebih lama. Akhirnya suhu dinaikin ke 200’C, sebentar kemudian barulah crack ke-2, disusul kemudian asap2 bermunculan (awalnya belum berasap). Melihat mulai banyak asap, buru2 matiin oven takut seisi rumah penuh asap. Kopi dibiarkan sekitar 2-3 menit di oven baru keluarkan. Hasilnya lumayan rata, tapi ga berminyak (dibandingkan dengan sebelumnya coba sangrai biasa dengan kuali besi). Yang agak bingung, awal selesai sangrai ga gitu tercium wangi kopi. setelah dingin, dimasukin ke topless kaca, besoknya baru tercium wangi kopi. Apa memang gitu atau salah cara sangrai? Untuk kopi Java Preanger memang agak asam plus ada aroma apa…gitu ya?

    Spec waktu sangrai:
    1. Kompor listrik merk Cosm*s
    2. Biji kopi diletakkan di ayakan tepung dari stainless steel
    3. Suhu awal 175’C, api atas-bawah, panaskan dulu 5 menit baru masukin biji kopi
    4. Selama proses, tray cuma dikeluarkan sekali yaitu setelah crack pertama untuk diratakan
    5. Setelah lebih dari total 10 menit, suhu dinaikkan menjadi 200’C
    6. Jenis biji kopi: Java Preanger. Berat yang disangrai 200 gr

    Reply
  2. syafrudin
    syafrudin says:

    Salam kenal pa Tony,
    Saya Ingin sekali mempraktekan setiap artiikel yg pa tony tulis. Tapi sayang saya masih belum punya alat2nya.

    Sincerely
    -syafrudin-

    Reply
  3. Luthfi
    Luthfi says:

    kemarin.. 10 Agustus di ABCD ngobrolin soal alat roasting sama temen, sambil jalan pulang kepikiran mau buat kaya gini. eh udah ada tulisan mas TW soal ini.. hehe1000X

    Reply
  4. Baqi
    Baqi says:

    Saya pernah nyoba dengan wicrowave..
    Karena sayapiring buat alasnya…
    Baru berjalan menit ke 3 langsung terjadi first crack, tapi yang crack adalah piringnya pecah berantakan…
    Abis itu gak dilanjutin lagi hehehe….

    Reply
  5. ludysabid
    ludysabid says:

    menarik sekali pak ide nya …. terfikir memodifikasi dalamnya dikasih drum saringan dan ada as putar nya.. hehehe.. agar menjadi lebih rata dan berkesan serius. dan jadi alat roasting lebih baik dan murah.. ( mimpi..)

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *