Dulu pernah terpikir untuk punya mesin espresso manual seperti Lapavoni Europiccola yang menyerahkan segala protokol seduh kepada operatornya. Europiccola bukan mesin semi otomatis yang tinggal pencet tombol dan membairkan mesin mengatur tekanan pompa seduh (brewing pump), tapi pengguna yang secara langsung menentukan berapa lama waktu pre-infusion, dan mulai menekan lever ke bawah untuk setiap shot-nya. Ternyata, tak semudah yang dibayangkan.

Vinyl. Kalau boleh diibaratkan pada dunia audio, pengguna mesin espress sistem lever itu persis dengan para penyuka pemutar piringan hitam atau turntable yang kini kembali populer. Coba saja bayangkan, tahapan yang harus dilalui demi mendengarkan lagu pada piringan hitam, dari mulai mengeluarkan piringan hitam, memasangkan ke platter, lalu mengarahkan jarum stylus lalu disusul dengan menekan tuas atau tone arm agar menyentuh permukaan piringan hitam.

Tapi buat sebagian orang, piringan hitam adalah teman sejati yang tak bisa tergantikan oleh kualitas pemutar cakram digital sekalipun.

Sama halnya dengan Europiccola, mesin yang dipinjamkan oleh Otten, pemakai mesin ini harus benar-benar telaten seraya banyak memanjatkan doa agar hasilnya memuaskan walau kenyataannya tak selalu demikian. Hingga kalau boleh saya katakan, saya kembali harus belajar banyak akan dasar pembuatan kopi dengan espresso.

Mulai dari kalibrasi grinder, dosing, hingga tamping. Salah satu proses itu tak sesuai, mulailah si Europiccola mengeluarkan tabiat aslinya, ngambek dan tidak mau menghasilkan ekstraksi sama sekali, atau sebagai hiburan, hanya mengeluarkan kucuran kopi hitam.

Mesin ini mengingatkan saya kepada Rancilio Silvia generasi pertama yang juga sama rewelnya karena memang segaja didesain agar pengguna benar-benar menguasai dasar pembuatan espresso. Misalnya saja, dosing sedikit berlebih saja akan membuat portafilter tak bisa terkunci pada group head.

Spesifikasi. Dibekali listrik 800 watt, relatif kecil untuk sebuah mesin espresso dan hanya memuat 800 ml air pada boiler dengan dilengkapi indikator ketinggian air di samping mesin.

Sebagai catatan, kita tak bisa menambahkan air pada saat sedang digunakan. Kenapa ? Karena Europiccola tak dilengkapi tangki terpisah. Dengan kata lain, pengguna harus mendiamkan dulu mesin ini hingga tekanan turun dan baru membuka penutup boiler-nya. Bila dilanggar, sama halnya jika Anda membuka katup radiator mobil saat mesin dalam keadaa panas dan bersiap terkena semburan air mendidih.

Portafilter. Berdiameter lebih kecil (51mm) dibanding dengan standard mesin komersial, dan berat hanya 230 gram.

Dimensi : Tingginya hanya 32 cm, dengan lebar 20, dan panjang 29 cm dan berat 5 kilogram saja, cukup mudah dibawa oleh 1 orang saja.

Manometer : Tentu tidak ada petunjuk tekanan seduh, hanya indikator boiler yang tak pernah menyentuh angka 1 bar, tapi maksimal  bertengger di angka 0.8 bar.

Drip Tray. Sangat kecil dengan kapasitas 100 ml air, jadi selalu bersiap untuk mengurasnya setiap saat.

Menggunakan Eurocopiccola. Sebaiknya menyiapkan grinder sistem stepless yang pengaturan kehalusan gilingnya  hingga persekian milimeter. Mesin ini sangat sensitif dengan ukuran bubuk kopi atau grind size hingga perubahan sedikit saja membuat hasil seduh tidak maksimal.

Pemanasan hanya kurang dari 10 menit saat jarum sudah menunjukan ke angka 0,8 bar. Bila dibiarkan dalam waktu lama, tekanan berlebih akan dibuang melalui pipa di samping steam wand. Saya menyiapkan lap terpisah untuk menyerap buangan air karena mesin akan terus menjaga tekanan pada angka 0.8 bar dan membuang tekanan yang berlebih.

Bagaikan baru menjalin tali kasih, mesin ini harus dikenali dulu karakter nya karena berbeda dengan mesin semi otomatis yang mengadopsi pompa untuk memberikan tekanan pada saat menyeduh. Pada Europiccola, operator lah yang mengatur seberapa banyak tekanan yang akan diberikan melalui tuas atau lever. DI sinilah seni mesin super manual karena harus membiasakan menaik turunkan lever beserta waktu yang diperlukan.

Caranya, setelah portafilter terkunci, saya mengangkat lever dan mendiamkan kurang lebih 5-10 detik. Saat tetesan kopi mulai keluar, barulah tuas diturunkan secara perlahan. Sama seperti saat menggunakan French Press, bila tekanan terlalu berat dan tuas sulit untuk turun, artinya grind size terlalu halus, tinggal di atur kembali pada penggiling kopi.

Sepertinya mudah, tapi percayalah, perlu percobaan terus menerus termasuk penyesuaian kehalusan pada grinder. Masalah yang seringkali muncul adalah under extraction, atau hasil seduh kopi yang terlalu cepat. Di lain saat, spout di porta filter tak mengeluarkan setetes kopi pun karena bubuk kopi terlalu halus.

Steam wand belum sempat saya gunakan, saking bersemangatnya untuk terus mencoba espresso-nya.

Penutup. Untuk para purist, yang lebih memilih mesin super manual, Lapavoni Europiccola bolehlah dipinang dengan harga 11 jutaan. Sebuah mesin espresso yang desainnya nyaris tidak berubah sejak pertama kali diperkenalkan di tahun 50an. Bila sudah menjalin hubungan yang erat, Europiccola tak terlalu sulit untuk digunakan dan kepuasan sudah bisa menguasai mesin super manual.

 *  *  *

3 replies
  1. maulana
    maulana says:

    wah harga na ga bisa diskon ya kang hehe
    menarik soalnya klo mesin espresso manual itu, bisa banyak melakukan eksperimen

    Reply
  2. Santri penyeduh
    Santri penyeduh says:

    Nuwunsewu kang, terlepas dari isi review-nya yang (seperti biasanya) sangat menarik, saya agak bingung dengan judulnya. Apakah Eurocopiccola atau Europiccola? Ataukah dua nama tadi berbeda satu sama lain?
    Maturnuwun. Salute

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *