EG1 : Lyn Weber Single Dose Grinder

Ada terminologi baru pada teknologi penggiling kopi atau grinder yakni “Variable RPM Speed”, sebuah inovasi yang salah satunya diperkenalkan oleh produk yang berasal dari Amerika, Lyn Weber pada tipe EG1. Produk artisan ini masih belum banyak digunakan di Indonesia, tapi salah satunya  terlihat di roastery “Smoking Barrels” Jakarta yang telah mengizinkan saya mencobanya. 

Regulasi di Meisn Espresso. Inovasi pada grinder tak seperti pada mesin espresso yang sudah jauh lebih lama memperkenalkan teknologi yang misalnya memungkinkan para Barista melakukan pengaturan pada tekanan (Pressure Profiling) dan/atau temperatur air (PID Temperature Controller), sebagaimana yang terdapat pada mesin La Marzocco tipe EP melalui piranti padel elektroniknya atau di Synesso MVP Hydra dengan 4 tahapan pressure profiling (pre-infusion, ramp-up, full pressure, ramp down).

Inovasi Grinder – Kecepatan Putar Motor (RPM). Sedangkan pada grinder, selain pengaturan dosing dengan menggunakan waktu atau berat, perubahan material burr, sementara pabrikan lain masih berusaha dalam mengembangkan teknik mendinginkan ruang giling atau “milling chamber”.

Metode sederhana yang digunakan misalnya dengan menurunkan putaran motor untuk mengurangi gesekan antara biji kopi dengan burr. Cara lain ? penambahan daya kipas pendingin dan lubang ventilasi agar suhu tetap stabil walaupun dioperasikan pada saat jam sibuk sebagaimana pada produk Mythos One atau K30 dari Nuova Simonelli dan Mahlkonig.

Penambahan fitur “variable RPM speed” pada sebuah grinder merupakan teknik terbaru yang antara lain diperkenalkan oleh 2 orang pendiri perusahaan ini  Craig Lyn dan Douglas Weber. Bila suhu dan tekanan pada mesin espresso bisa diregulasi sebagaimana pada mesin espresso high-end, mengapa tidak dengan grinder khususnya pada komponen yang mengatur kecepatan putar burr ?. Demikina hal yang menginspirasi Lyn dan Weber pada saat mengembangkan prototip EG1.

RPM pada Drum Roasting. Saya juga jadi teringat dengan Christian Heryanto yang memproduksi mesin roasting dengan merek Froco, di mana ia juga telah mengadopsi pengaturan kecepatan putaran drum. Sebuah fitur yang berguna bagi para roaster untuk memilih kecepatan putar drum selain variabel pengaturan suhu.

Desain dan Spesifikasi. Tak seperti sebuah grinder yang biasa kita lihat, sekilas EG1 buat saya seperti sebuah perangkat mikroskop yang berdiri dengan sudut kemiringan 45 derajat. Material pembungkusnya terbuat dari alumunium solid hingga EG1 sebaiknya diangkat oleh dua orang dewasa. Tingginya 46 cm dengan panjang dan lebar 23 cm belum termasuk modul.

Magnet. Tak banyak sekrup yang terlihat karena konstruksi EG1 banyak memanfaatkan magnet (neodymium magnet) yang menempel dengan kokoh, misalnya pada penutup burr atau bean dish. 

Modul Kontrol. Selain grinder, terdapat satu kotak hitam lain yang harus terpasang berupa modul pengontrol untuk mengatur kecepatan putar/RPM burr. Hanya terdapat 1 tombol putar pada modul berbentuk kubus ini yang bisa menampilkan kecepatan putaran motor dari 180 hingga 1.510 RPM yang akan ditampilkan pada layar LED dot-matrik nya.

Opsi tambahan, sebuah padel yang bisa diaktivasi dengan cara diinjak (Foot Switch) dijual dengan harga terpisah.

Burr – 10.000 Kg. Menggunakan sistem flat burr dengan dimater 80 yang terbuat dari material Titanium Carbo Nitride (TiCN) yang pada web nya di klaim bisa digunakan hingga 10.000 kg dengan efek statik yang minimal.

Single Dose. Karena EG1 ditujukan untuk penggunaan single dose, yang tentunya tak memerlukan sebuah kontainer untuk menyimpan biji kopi. Filosofi ini didasari untuk mempertahankan konsistensi volume kopi setiap kali akan digunakan dengan cara manual tanpa bantuan perangkat penimbang yang terpasang pada grinder sebagaimana fitur yang terdapat pada Baratza tipe Vario dan Sette 270.

PIN – Step System. Komponen penting ini tepat berada di tengah bagian grinder dengan skala 1 hingga 100 atau menggunakan sistem step. Grinder biasanya rentan dengan perubahan setting, walaupun hanya bergeser sedikit terutama pada saat digunakan untuk menggiling kopi bervolume besar. Pada EG1, keberadaan pin tersebut akan mengunci burr sedemikian rupa untuk menghindari pergeseran sekecil apapun. Sebuah fitur yang sangat berguna dari sebuah komponen sekecil pin yang berukuran 5 mm.

Menggunakan EG1. Pengoperasian Eg1 hanya dengan menekan tombol atau switch power yang sudah tersambung dengan modul dan akan menampilkan putaran motor dengan angka dot matrix. Pengguna hanya tinggal memutar tombol modul untuk memilih RPM yang sebagaimana sudah disebutkan di atas, dimulai dari 180 hingga 1.510 RPM.

Pada setting untuk espresso, EG1 membukukan catatan kecepatan mendekati 14 detik untuk 20 gram kopi. Tentu bukan sebuah indikator atau patokan karena kecepatan putaran burr salah satunya dipengaruhi oleh roasting profile. Semakin muda warna biji kopi, maka semakin keras usaha burr untuk menggilingnya, demikian pula sebaliknya.

Pertanyaan besarnya, seberapa besar pengaruh rasa kopi dengan adanya fasilitas yang membuat pengguna bisa menggiling satu jenis kopi yang sama dengan putaran motor yang berbeda. Menurut Lyn dan Weber, sebagai pembuat EG1, jawaban untuk pertanyaan tersebut diserahkan sepenuhnya kepada para pengguna EG1 yang bebas melakukan berbagai eksperimen.

Low Retention. Artinya sisa kopi yang masih tersisa sangat minimal bahkan dalam web nya disebutkan bila kita menggiling kopi sebanyak 20 gram, maka output nya pun akan sama. Keterbatasan waktu saat itu membuat isu penting tak sempat dilakukan pengetesan.

Jadi ? Secara desain produk. inilah grinder yang bentuknya di luar pakem dengan konstruksi yang sangat solid. Penggunaan magnet cukup  memudahkan untuk bongkar pasang terutama untuk akses ke bagian burr.

Selain aspek di atas, tentu penggunaan modul untuk meregulasi putaran burr adalah fitur utama yang menjadi unggulan pada produk EG1. Kesemuanya cukup ada tebus dengan harga 40 jutaan.

________________

Terima kasih Smoking Barrels yang sudah mengizinkan saya bermain-main dengan EG1. 

13 replies
  1. Abdul Cahyo
    Abdul Cahyo says:

    harganya mahal juga yah, meskipun harganya mahal tapi produk ini tidak akan mengecewakan pembeli, dan akan menghasilkan secangkir kopi yang begitu nikmat ketika diminum

    Reply
  2. abid abdullah
    abid abdullah says:

    Bahkan dari hal sekecil itu diperhatikan demi menikmati secangkir kopi yang nikmat. Memang dibutuhkan usaha yang besar jika ingin merasakan hasil yang sempurna

    Reply
  3. Gunawan
    Gunawan says:

    kang toni, saya mohon petunjuk.. setelah membaca tulisan kang toni, hb dan lainnya, selalu ditekankan bahwa grinder sangat penting.. menurut kang toni dan suhu-suhu air hitam lainnya disini, mana yang lebih ok: mesin espresso 17 juta + grinder 11 juta atau mesin espresso 30 juta + grinder 4 juta.. gunanya untuk kedai kopi kecil pemula, target 50 cups/day dengan aspirasi ingin upgrade someday.. terima kasih sebelumnya.. 🙂

    Reply
  4. Singgih Prasetya
    Singgih Prasetya says:

    Selamat sore Pak Toni..
    Pak saya berminat membeli La marzocco linea mini..
    apakah Pak Toni punya info untuk salesnya…
    saya telp PT Sukanda Djaya katanya nunggu salesnya nghubungin tapi ampe sekarang belum ada yg menghubungi..

    terima kasih
    salam

    Reply
  5. david
    david says:

    Pertamax 😄😄😄😄 sampai juga ke Cikopi LynWebber ini. Dengan harga yang setara Grinder papan atas lainnnya, kira kira bakal hype dan menggeser posisi EK dkk ngga ya om. Kalau cuma utk single dose gitu, utk bikin double harus kerja dua kali ya om TW?

    Reply
    • toniwahid
      toniwahid says:

      Untuk sementara sih EK43 masih jauh di atas angin dengan peminat yang masih tinggi dibanding pendatang baru EG1.
      Sepertinya masih perlu waktu untuk menguji ketangguhan dan kualitas yang mereka janjikan.

      Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *