Di tangan Irawan alat peras jeruk bisa jadi Red Presso

Namanya juga tukang ngoprek, jadi tak ada yang mustahil bagi Irawan Halim untuk kembali berkarya dengan ciptaan terbarunya “Red Presso” yang sebenarnya sudah beredar hampir setangah tahun lalu. Tapi kalau pembaca ingin tahu siapa Irawan Halim, silakan membaca artikel saya terdahulu tentang Red Steamer, sebuah perangkat frothing susu yang ia modifikasi dari alat seduh moka pot. Saya menemui Irawan di sebuah hotel kota Bandung hari Senin tadi untuk melihat secara langsung produk barunya, Red Presso.

Irawan boleh dikatakan sebagai McGyver-nya kopi, yang rajin meneliti jeroan sebuah mesin dengan cara membongkarnya sembari mencari ilham agar bagaimana ia bisa membuat sendiri alat tersebut. Bukan hanya sekedar bisa memproduksi saja, ia juga harus mampu menciptakan sebuah alat yang harganya relatif murah agar produknya bisa menjangkau banyak kalangan.

Maklumlah, beberapa alat kopi seperti mesin espresso kelas profesional umumnya harus ditebus dengan uang puluhan juta dan itu belum termasuk berbagai aksesoris lainnya. Siapa yang nyalinya tak ciut bila pembaca yang berminat memulai usaha dengan modal seadanya lalu harus dihadapkan dengan deretan angka panjang.

Itulah yang menjadi salah satu alasan yang membuat rela menghabiskan waktu panjang di ruang bengkel di rumahnya kawasan Cimahi, Bandung. Prosesnya saya yakin tak mudah karena sebelum produknya jadi, Irawan banyak memperhatikan beberapa mesin yang kira-kira cocok untuk ia bedah menjadi perangkat espresso manual.

Hingga wangsit akhirnya datang saat ia memutuskan untuk mengubah alat perasan jeruk yang punya konstruksi kokoh dan sepertinya mudah untuk di otak atik.

Bagaimana tekanan dihasilkan ? Idenya ia ambil dari mekanisme Aeropress yang menggunakan tekanan udara untuk ekstraksi, tapi ia mengubah handle-nya agar mudah dioperasikan sebagaimana mesin sistem piston/lever. Lalu ia memasangkan filter basket yang bisanya digunakan pada portafilter mesin espresso tepat di bawah slinder stainless (brewing chamber) yang berat nya hingga 0.7 kg (untuk diameter 58mm). Brewing chamber bisa digeser dan terdapat pengunci agar kedudukannya tidak goyah.

Portafilter ? Tapi tunggu dulu, alat ini tak memiliki portafilter untuk menempatkan kopi pada group head.  Jadi di mana kopi dimasukan ? Cukup letakan di bagian dalam slinder, lalu tutup permukaanya dengan piranti yang terdapat per agar posisi kopi tak naik ke atas saat diseduh sebagaimana yang terdapat pada Vietnam Drip.

Setelah itu tekan dengan tamper untuk dipadatkan dengan tekanan, yang menurut Irawan sedikit lebih keras dibandingkan dengan tamping untuk mesin espresso.

Brewing. Panaskan air lalu tuang ke bagian chamber yang sudah berisi kopi, lalu geser tepat di tengah handle yang akan memberikan tekanan maksimal guna menghasilkan espresso. Dengan kopi fresh, kehalusan kopi dan tamping yang pas, Red Presso bisa menghasilkan espreso yang menurut saya terbaik di kelas mesin manual.

Ke depan Irawan akan memasangkan manometer sebagaimanya yang terdapat di Red Steamer, agar pengguna bisa memantau pergerakan tekanan yang dihasilkan. Kiranya alat ini patut disambut keberadaannya terutama bagi para pebisnis pemula yang ingin terjun membuka warung kopi tanpa harus membeli mesin espresso yang berdaya listrik dan harga yang mahal.

Harga : Alat yang beratnya mencapai 8 kg ini sudah terbang ke berbagai daerah di Indonesia dan dijual dengan harga 4 jutaan dengan kelengkapan sebagaimana foto di atas.

Kontak Irawan : Anda bisa menghubungi Irawan di nomor 0813 2255 0805 untuk konsultasi yang lebih lengkap tentang Red Presso.

@Harris Hotel w/ @adi.taroepratjeka & @toniwahid .. The living legends ☕

A photo posted by Irawan Halim (@irawan.halim) on

15 replies
  1. Kevin
    Kevin says:

    hmm harganya agak mahal ya dgn harga segitu bs dapat delonghi atau gaggia yg notabene adalah mesin espresso 1 group yg sudah bisa steam milk

    Reply
    • VERNO
      VERNO says:

      Genre nya beda bro. Red presso full manual alias pake otot.

      Pembandingnya rokpresso atau nomad kali, yg sama2 tanpa listrik dan bukan tipe stove top.

      Reply
      • Irawan halim
        Irawan halim says:

        Yupp..betul kang Verno…saat ini genre-nya adalah manualan,bukan berarti rekan2 gak bisa mempersenjatai dg ALUTSISTA (perALatan UTama SIStem barisTA) yg full automatic/electric.Tapi banyak pertimbangan seblm menentukan pilihan.Salah satunya metode membandingkan alat “Apple to Apple” bukan “Apple to Pineapple”.. Nuhun kang Verno ?

        Reply
    • Irawan halim
      Irawan halim says:

      Saya bikin alat2 kopi manual setelah melihat trend dan kebutuhan rekan2 yg ingin mempunyai usaha kedai kopi.Keterbatasan daya listrik adalah kendala yg paling utama,krn tidak jarang format jualan mereka adalah gerobak/angkringan kopi di pinggir jalan,bahkan banyak juga yg berbentuk foodtruck.Sehingga selama ini utk memenuhi kebutuhan espresso base,mereka hanya punya pilihan utk menggunakan ROKPresso.Yang tidak banyak diketahui oleh mereka yaitu disain awal ROKPresso adalah hanya utk pemakaian non-komersial.Makanya setelah proses ATM(Amati,Tiru,Modifikasi),saya gunakan bahan2 dg durabilitas tinggi dg harapan alat yg saya bikin akan berumur panjang dan low maintenance,yg nantinya dari sisi aftersales-nya gak akan nyusahin rekan2.Disitulah letak mahal atau murahnya suatu alat.Demikian kang Kevin.

      Reply
    • Irawan halim
      Irawan halim says:

      Disain awal sbnrnya mw saya bikin pake portafilter standard 58mm..tapi pas masuk bagian analisa bahan,ternyata tingkat kesulitan ada pada proses pembuatan grouphead dan portaholder yg cukup mahal.Shg akhirnya utk saat ini saya baru mengeluarkan type yg gak pake grouphead dan portafilter.Utk hasil espresso relatif sama dg kalau pake grouphead dan portafilter.Hanya faktor speedity aja yg beda.Tapi itu juga tergantung usernya.Demikian kang Hendy..?

      Reply
    • Irawan halim
      Irawan halim says:

      Iya mirip kangkopi..saya juga baru lihat beberapa hari yg lalu.Serupa tapi tak sama…R.E.D.Presso saya bikin sekitar April 2016,dan 27 Mei 2016 kita bikin “Cappuccino Fun Barista Battle using R.E.D.Presso and R.E.D.Steamer” di Delish Cafe – Bandung, dg judge salah satunya Rio Dewanto.Acaranya cukup sukses ..nuhun kang..

      Reply
      • Jeffry
        Jeffry says:

        Kang, saya pernah punya ilham bikin steamer susu dari setrika uap. Mudah2an direalisasikan sama akang

        Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *