head2

Pepeng dan Klinik Kopi

pepeng klinik kopi

Dengan khusyu Firmansyah (33) atau yang lebih dikenal dengan panggilan Pepeng menuang kopi yang ia seduh dengan Presso dan disuguhkan kepada kami yang bertandang ke “laboratorium” kopinya di Pusat Studi Lingkungan Universitan Sanata Darma, Jogjakarta. Tak salah kalau ia menyebut tempatnya sebagai “Klinik Kopi” dengan jajaran toples berisi biji kopi dari berbagai daerah, atau lebih tepatnya ia sudah mengkoleksi hampir 31 single origin se-Indonesia. Sebuah jumlah yang sangat besar yang kesemuanya bermuara pada hasrat yang tak pernah padam seorang Pepeng, agar semua orang bisa menikmati kopi secara kaffah atau seutuhnya.

pepeng

Pria kelahiran Jogjakarta ini masih berprofesi sebagai pengumpul barang-barang antik dan dikenal akan instingnya yang jitu dalam memilih perangkat yang kelak akan dijualnya. Bagaikan serial “The Pickers” ia sudah berkelana ke hampir seluruh penjuru Indonesia sekaligus menelisik sentra produksi kopi. Sayang ia belum menunaikan ibadah haji, artinya menurut Pepeng ia masih memendam keinginan untuk berkunjung ke Flores dan terutama ke Wamena, Papua sebagai puncak perjalanan spiritualnya di laut hitam.

Kegiatan Klinik Kopi nya berlangsung hanya empat jam setiap malam atau dari jam 18 hingga 22 kecuali hari Minggu yang ia gunakan untuk beristirahat. Sebelum akhirnya menempati ruangan di lantai dua Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Darma, kawasan Gejayan, Jogja, Pepeng banyak menerima panggilan dari suatu tempat ke tempat lainnya. Tapi akhirnya ia diperbolehkan membuka praktek di tempat Klinik Kopi bermarkas sekarang.

Siapapun boleh berkunjung ke Klinik Kopi, baik perseorangan maupun komunitas, tapi tentunya dengan perjanjian terlebih dahulu. Agar obrolan tentang kopi lebih intens. setiap sesi diusahakan hanya untuk empat orang dan Pepeng mempersilakan mereka untuk bertanya apa saja tentang kopi sembari berbagi pengetahuannya tentang asal muasal kopi hingga cara seduh yang benar.

Pengunjung tak boleh merokok, membawa makanan atau minuman, pun jaringan nirkabel atau wifi yang tak tersedia di ruangan seluas kiran-kira 80 meter persegi ini. Bukan apa-apa, tapi menurut Pepeng agar diskusi berlangsung lebih hangat tanpa gangguan yang tak perlu. “Di cafe orang hanya pesan, minium, dan asyik dengan piranti elektronik yang mereka bawa, lalu pulang, tapi itu tidak demikian dengan Klinik Kopi” ujar Pepeng yang baru-baru ini mengadakan lomba seduh kopi tubruk dan nasi goreng kopi.

Saya ingat pepatah Jawa yang bunyinya, ngunduh wohing pakarti, bahwa apa yang dilakukan Pepeng dengan segala kerendahan hatinya akan membawa manfaat buat kalangan umum. Manakala secangkir kopi diapresiasi dan dinikmati dengan penghayatan sepenuhnya dan siapa tahu Anda berkesempatan mencoba merasakan atmosfir tersebut di Klinik Kopi.

*  *  *  *  *

 

12 replies
  1. abi zoldyck
    abi zoldyck says:

    Bukan hanya mendapatkan ilmu yang bermanfaat, membaca artikel pa Toni ini juga sering bikin saya ketawa2 sendiri dengan bahasa yang digunakan …. Saya yakin nih pa Toni jago stand up comedy … I love u full pa Toni, hihihi…

    Reply
  2. oelpha
    oelpha says:

    Baru tau kalo namanya Pepeng “Irwansayah”, selama ini setahu saya “Firmansyah”. Yang bener apa sih, Peng? :))

    Ralat, namanya “Firmansyah” bukan “Irwansyah”.

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *