Walau orang tua Stevie Franciscus (32) merupakan pemilik Lexus LX470, sebuah Toyota Land Cruiser versi mewah, namun rupanya ia telah jatuh hati pada mobil Volkswagen versi Combi keluaran tahun 1984 yang kini ia gunakan untuk berjualan kopi sambil menelusuri beberapa kota di pulau Jawa.

Bagaimana petualangan lajang lulusan S1 Hubungan Internasional di FISIP Universitas Prof. Dr. Moestopo berkeliling berbagai kota di sekitaran Jawa Tengah hingga ke Jakarta ? Liputan selengkapnya di bawah ini.

Kombi. Menggunakan VW Kombi untuk berjualan kopi ataupun makanan sudah merupakan hal yang lumrah. Mobil ini memang punya dimensi yang cocok untuk diajak sebagai teman seperjuangan mencari nafkah. Ruang interiornya yang luas membuat modifikasi bisa dilakukan sedemikian rupa untuk bisa mengangkut berbagai peralatan yang diperlukan.

Film Chef. Stevie kepincut memulai bisnis gara-gara menonton film drama komedi “Chef” dan memutuskan untuk mengikuti jejak John Favreau yang menjual makanan dalam film tersebut di sepanjang kota yang dilaluinya.

Red Flover dan Kombi 1984. Setelah melalui banyak permenungan, VW Kombi menjadi pilihannya dan berhasil meminang mobil impiannya seharga 30 juta untuk dijadikan lapak berjualan kopi dan bukan “cubanos” sebagaimana yang dilakukan oleh para pemain film “Chef”.

Nama yang ia pilih “Red Flover” dengan alasan agar banyak disukai semua orang, sebagaimana sekuntum bunga merah. Itu harapan yang ingin mereka capai saat memilih nama tersebut.

Memulai modifikasi dari mesin hingga kaki. Masalahnya, mobil VW Kombi Clipper keluaran Brazil tahun 1984 dengan kode mesin BZ253770 yang dibeli Stevie sudah uzur, dengan usia yang sudah lebih dari 30 tahun. Mengapa tidak VW Kombi buatan Jerman yang lebih iconic ? “Harganya lebih mahal” kata Stevie mengemukakan alasan ia memilih Kombi versi Brazil.

Alasan lain, karena mobil ini sudah dilengkapi dengan sistem rem cakram dan dirasa lebih nyaman suspensinya dibanding dengan model VW Kombi Brazil lainnya.

Tentu dengan kondisi apa adanya pada saat dibeli,  ia terpaksa harus melakukan berbagai perbaikan atau lebih tepatnya restorasi di berbagai sektor terutama bagian mesin dan kaki-kaki.

Suara mesin yang aneh dan perbaikan dilakukan dengan mengganti semua komponen seperti nokken as, ring piston, karet-karet, dengan kata lain turun mesin. Termasuk juga hampir semua bagian kaki yang komponennya banyak diganti seperti peredam kejut (shock breaker, tie rod, laher roda, dan komponen rem.

Setelah mobil dinyatakan layak jalan dan bisa berlari di atas kecepatan 100 km/jam dengan beban penuh, Stevie mulai melakukan pembenahan di bagian bodi. Untuk urusan sepenting ini Stevie bekerjasama dengan seorang mantan karyawan bengkel VW terkenal.

Beban yang harus diangkut VW Kombi. Setelah semua pengerjaan mobil selesai, tinggal bagaimana si Kombi mampu mengangkut beban peralatan yang akan dibawa sepanjang perjalanan.

Bukan perkara sederhana ternyata karena Stevie harus memperhitungkan keseimbangan mobil agar tidak berat sebelah karena beban yang berlebihan di satu sisi.

Entah bagaimana caranya, tapi yang jelas ia melakukan modifikasi dengan menanam per agar beban lebih menarik ke kiri karena peralatan bar ia letakan di sebelah kanan. Maklum ia meletakan tak kurang dari 22 kg galon air dan tabung gas LPG yang jumlahnya belum termasuk mesin espresso dan piranti pendukungnya.

Rocket Boxer. Sekarang ia bisa memasukan sebuah mesin espresso Rocket tipe Boxer yang kebetulan punya fitur 2 steam wand. Hal ini memungkinkan mereka berdua bisa bekerja secara bersamaan tanpa harus rebutan tuas steam.

Genset 7000 watt. Dalam urusan pasokan listrik, Stevie memanfaatkan sebuah genset berkapasitas 7 ribu watt yang ditarik dengan anhang di belakang Kombi miliknya. Mengapa dayanya besar sekali ?

Karena menurut Stevie, daya yang besar bisa lebih menghemat bahan bakar dan yang paling penting adalah kerja genset yang menjadi ringan karena hanya memasok hampir setengah kebutuhan listrik yang ia perlukan.

Berdasarkan catatannya, Red Flover rata-rata hanya memerlukan bahan bakar bio solar seharga 25 ribu per hari untuk operasional selama 7 jam.

Seseru ini pengalamannya. Stevie menghabiskan biaya 350 juta rupiah agar Red Flover dengan VW Kombi nya laik jalan dan mampu mengangkut beban peralatan untuk diajak berpetualang di berbagai kota sambil menjajakan kopi yang ia kurasi sendiri.

Cukup banyak kota-kota yang telah ia singgahi di sekitaran jawa Tengah dan beberapa minggu kemarin saya sempat menjumpainya di 2 kawasan Jakarta Selatan.

Walau sudah meminta ijin RT/RW setempat, berjualan di pinggir jalan yang tak mengganggu arus lalu lintas pun sempat disinggahi oknum tak diundang seperti yang saya saksikan sendiri.

Semarang. Kota pertama yang mereka lakoni untuk berjualan adalah Semarang dan ternyata mendapatkan sambutan hangat yang sama sekali diluar dugaan. Saat itu karena hanya bekerja sendiri, Stevie harus berjibaku mengerjakan semuanya seorang diri dan menurutnya luar biasa melelahkan.

Bukan saja mempersiapkan mobil, peralatan, serta genset yang luar biasa beratnya, juga melayani para pembeli sekaligus.

Ooops, masalah di hari ke-3 mulai terjadi saat daya listrik dari genset terputus karena panas berlebihan dan para pengunjung pun terpaksa kecewa karena Red Flover harus berhenti. Masalah bisa teratasi dnegan menambah kipas pendingin agar mesin genset tetap dingin.

Menyusuri jalan dengan mengendarai VW Kombi sambil berjualan kopi adalah sensasi tersendiri. Mereka banyak bertemu orang dan lingkungan yang sama sekali baru dan tentu saja teman-teman baru.

Kebanjiran hingga mobilnya kemasukan air, tak kuat menanjak karena momentumnya hilang gara-gara ngerem mendadak untuk menghindari tabrakan dengan motor yang berhenti mendadak.

Mogok ? tentu saja saat kendaraan mereka harus ditarik ke bengkel untuk perbaikan yang tak bisa dilakukan di pinggir jalan.

Stevie juga menyarankan bagi para pengguna VW Kombi terutama yang digunakan untuk berjualan agar tetap melakukan perawatan rutin dengan memeriksa volume oli, serta kebersihan karburator. Baik juga mengganti komponen platina dengan sistem CDI untuk durabilitas yang lebih baik.

Itulah sebagian kecil sisi petualangan seru Red Flover yang semoga menjadi inspirasi para calon pemilik VW Kombi lain yang ingin menjadikannya sebagai cafe berjalan sekaligus berpetualang ke berbagai kota di Indonesia.

* * *

2 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply to nusa penida Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *