Harganya 500 dolar Amerika, tak murah untuk sebuah alat penggiling kopi yang mengandalkan kekuatan tangan untuk memutar burr-nya. Tapi inilah Apex, produk terbaru dari Orphan Espresso yang sebelumnya telah mengeluarkan grinder Lido dalam berbagai versi. Lido 3 pernah saya ulas pada tulisan sebelumnya di sini.

Bagaimana performanya ?

Tentang Orphan Espresso. Perusahaan ini berpusat di negara bagian Idaho, Amerika, sebuah bengkel artisan yang saat ini telah memproduksi 6 jenis penggiling kopi manual : Lido E, Lido 2, Lido 3, Pharos, yang kesemuanya lebih ditujukan untuk seduh manual, walau bisa juga di set burr nya untuk espresso. Sedangkan tipe lainnya Lido E-T, sebuah penggiling kopi yang khusus dibuat untuk seduh espresso.

Harga Lido & Commadante. Secara konstruksi rancang bangun, khususnya pada tipe Lido 2 dan 3 yang pernah saya coba, kesemuanya tidak mengecewakan dengan material yang berpresisi tinggi. Bila dibandingkan dengan penggiling kopi manual yang pernah saya coba, Lido memang memiliki dimensi terbesar dan terberat walau masih bisa dibawa bepergian.

Harga Lido saat tulisan ini dipublikasikan berada dikisaran 3,5 jutaan dan bersaing dengan harga grinder Commandante.

Apex. Sampai saat ini saya belum menemukan penjualnya di Indonesia karena grinder ini saya peroleh dari seorang teman di IG yang sudah berbaik hati mengirimkannya ke kantor untuk dicoba.

Satu catatan penting, Apex, menurut pembuatnya, tidak bisa digunakan untuk hasil giling espresso, tapi terbatas pada kopi seduh biasa.

Spesifikasi. Bentuknya agak sedikit aneh untuk sebuah alat giling kopi, tapi itu tentu saja selera pribadi saya yang subjektif. Secara desain, Apex memiliki konstruksi dengan kemiringan sekitar 40 derajat dengan dimensi : tinggi 29cm, panjang keseluruhan 33cm dan lebar 12 cm, total berat mencapai 5 kg.

Ghost Burr Stainless : Berbeda pada produk Orphan yang biasanya menggunakan tipe conical, Apex menggunakan jenis “Ghost Burr”, berupa kumpulan titik-titik berbentuk prisma yang bahannya terbuat dari material stainless.

Ghost Burr pada dasarnya memiliki fungsi yang sama untuk “menghancurkan” biji kopi, namun terdapat perbedaan mencolok pada jenis cutting permukaannya. Feima 610N atau Fuji Royal buata Jepang adalah salah satu contoh grinder yang mengadopsi ghost burr.

Apex menggunakan burr berdiameter 75mm (stationery atau yang diam), dan 78 untuk yang berputar (rotational) dengan material baja stainless.

Tuas Pemutar. Bagian yang paling menyolok tentu di komponen pemutar burr atau tuas yang bisa dibongkar pasang dengan tulisan embos Apex. Pegangannya cukup ergonomis saat dipegang dan berputar dengan suara halus bila tidak terdapat kopi pada hopper-nya.

Hopper. Tempat biji kopi berada di punggung dengan penutup dari plastik berkapasitas maksimal 70 gram.

Membedah Apex. Nah, Apex menyediakan 3 kunci hex yang memungkinkan pengguna untuk bisa mempreteli grinder ini, terutama bila akan dibersihkan setelah penggunaan dalam jangka waktu tertentu.

Mudahkah membuka satu persatu bagian dari alat penggiling ini ? Selain harus mengingat sekrup mana dipasang di bagian apa, membuka Apex tidaklah terlalu sulit.

Kualitasnya presisi komponennya patut diacungi jempol saat setiap bagian harus terpasang dengan pas dan tidak menyisakan sedikit pun ruang kosong. Pun demikian dengan baut yang kesemuanya harus terpasang tegak lurus agar bisa diputar.

Ada 13 sekrup yang harus dibuka satu persatu untuk bisa melihat komponen bagian dalamnya. Bagian pertama yang saya buka adalah komponen di belakang tuasnya yang berisikan 3 roda kecil untuk memutar roda yang lebih besar.

Menggunakan Apex. Pertama, Apex menggunakan sistem step dengan jumlah 20 titik dari halus ke kasar. Jarak atau ruang antara kedua burr untuk setiap penyesuaian grind size hanya 1.5 mm.

Bagian menarik tentunya saat memutar tuas dan saya langsung mencoba ke titk terhalus dan mulai memutar tuas searah jarum jam. Kopi yang digunakan dengan warna muda atau light roast hanya berjumlah 10 gram.

Tuas Sulit Bergerak. Kejutan pertama adalah tuas sulit berputar dan perlu tenaga ekstra agar kopi bisa digiing walau sudah dicoba memutar berlawanan arah. Torsi atau daya putar Apex belum memenuhi harapan saya mengingat harganya yang harganya 7 jutaan bila di hitung dari kurs 14.300 per dolar.

Berlanjut ke 5 dan 10 titik dari awal, Apex belum menampakan performa maksimalnya dan saya masih berjuang menggiling kopi dengan jumlah yang sama.  Tapi untuk kopi hasil roasting yang agak gelap, tak terlalu sulit buat Apex dalam menuntaskan pekerjaannya.

Goyang. Hal penting lain adalah kedudukannya yang tidak kokoh saat dioperasikan. Sebenarnya ada 4 lubang di bagian bawah chute yang akan saya pasang baut di atas meja agar grinder ini bisa berdiri dengan kokoh.

Saya sudah mencoba berbagai posisi agar grinder ini bisa stabil sesuai dari video yang dirilis Apex, namun hasilnya masih jauh dari harapan.

Sisa kopi sebagaiman foto di atas kiranya cukup memberikan gambaran akan masih banyaknya sisa yang tertinggal di bagian dalamnya.

Hasil Giling. Ghost Burr cukup memenuhi keingintahuan saya yang hasilnya tidak terlalu mengecewakan. Secara kasat mata tidak ada keanehan dan kopi bisa digiling dengan hasil cukup seragam.

Bagaimana bila dibandingkan dengan Commandante, produk unggulan yang sayangnya barang sedang absen pada saat tulisan ini dibuat. Tapi subjektivitas saya, akan lebih memilih Commandante yang menggunakan pisau jenis conical untuk hasil giling yang lebih bagus dibandingkan dengan  Apex. Terlebih Commadante bisa menggiling kopi untuk espresso selama penggunanya tak lelah memutar handle ratusan kali per saji.

Jadi Bagaimana ? Semoga saja saya saya salah menilai grinder ini, tapi beberapa kali mencoba hasilnya tak jauh berbeda. Kedudukan grinder yang tidak solid, tuas sulit diputar untuk light roast dan “waste retention” yang tidak mengesankan.

Sebenarnya saya berharap banyak dengan produk dari Orphan Espresso mengingat Lido 3 dan Lido 2 yang pernah saya coba jauh lebih nyaman untuk digunakan terlepas dari ukurannya yang besar dan hasil giling yang juga lebih baik.

Kesimpulan. Bila saya boleh menyarankan, rasanya sayang membeli grinder seharga 500 dolar seperti Apex kalau Anda bisa mendapatkan sebuah Porlex yang harganya 700 ribuan atau Timemore yang dibandrol dari harga 1.5 – 3 jutaan, dan terakhir tentu saja Commandante, produk favorit saya.

Tapi bila anggaran mepet, masih ada Hario Ceramic Slim dan seabrek produk buatan Cina yang harganya bahkan ada yang di bawah 100 ribuan bila memang sedang kepepet.

Hasil giling grinder di atas, menurut saya tak kalah bagus dan merek seperti Commandante atau Timemore performanya dari faktor kemudahan penggunaan, portabilitas, serta harga jauh melebih grinder ini.

Tapi sekali lagi ini penilaian pribadi dan dengan harga 7 jutaan saya akan langsung memilih alat giling kopi dengan tenaga listrik tanpa harus bersusah payah mengeluarkan peluh. Praktis !

Maafkan, saya tak bisa merekomendasikan Apex dari Orphan Espresso untuk para pembaca.

* * *

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *