Saya pernah  menyimak secara seksama perdebatan antara kopi gunting dan giling dengan berbagai perspektif yang disajikan dengan narasi menarik. Buat saya, tak ada yang salah dengan kopi gunting atau kopi saset pun demikian orang yang lebih memilih menggiling kopinya sendiri. Karena satu hal, droits naturels, inaliénables et sacrés de l’Homme yang kalau dalam bahasa Sunda dikenal dengan “Kopi aing, kumaha aing”. Salah satu aturan misalnya, “Instant Coffee is Getting Cool Again”, demikian  50 topik yang disajikan dalam buku yang baru saja diluncurkan pada tahun ini “The New Rules of Coffee”

Buku ini ditulis oleh 2 orang pendiri situs kopi “Sprudge” Jordan Michelman dan Zachary Carlsen, dengan tebal sebanyak 159 halaman dan berukuran 8.5 x 13 cm. Anda bisa mendapatkan buku ini di toko Periplus seharga 200 ribuan, tanpa harus bersusah payah membelinya dari luar negeri.

Secara singkat buku ini bagi dalam 4 kategori :

1. Tentang kopi secara umum, sejarahnya, perkebunan, proses, negara penghasil kopi, dan roasting

2. Menyeduh kopi di rumah. Ini bagian yang paling menarik tentunya dan kedua pengarang mencoba menjelaskan berbagai aspek menyeduh kopi di rumah. Dari mulai pemilihan alat yang tak perlu mahal, kebersihan perangkat, cara menyimpan kopi termasuk bila harus menepatkannya di freezer/kulkas, biji kopi lebih baik ketimbang bubuk.

Tentang kopi instan juga bagus seperti Via dari Starbucks misalnya serta tentang “batch brew” atau pembuat kopi listrik (coffee maker) bukanlah sesuatu hal yang harus dihindari dan justru banyak digunakan karena konsistensi dan kepraktisannya.

3. Rules for the Cafe. Seorang Barista berperan sebagai chef, penyaji, dan juga terapis ! Dibahas juga tentang kejuaraan Barist yang menurut penulisnya bagaikan melihat “Dog Show’ dan “Master Chef” secara berbarengan. Jangan lupa memberi tips sepantasnya kepada Barista yang sudah menyuguhkan kopi seraya menjaga suasana kedai kopi tetap nyaman.

4. Masa depan kopi. Kopi luwak yang tidak mereka rekomendasikan karena issue “animal rights”, manfaat kopiyang lebih banyak dari mudharat-nya, keayaraan rasa dan aroma yang tak berbatas dan para praktisi kopi terutama yang mengembangkan kebunnya secara artisan.

Epilog : Buku ini disajikan dalam bahasa keseharian buat publik yang ingin tahu tentang industri kopi kekinian karena itulah ringan buat dibaca. Penulis membatasi untik terjebak dalam jargon ilmiah yang tak banyak dipahami tapi menekankan bagaimana cara kita menikmati kopi seraya mengapresiasi perjalanan panjang hingga siap tersaji di hadapan kita.

Kutipan terakhir dari buku ini sebagai penutup : “Drink what you like. Heck, why not? It’s your world. We’re just living in it”. 

 * * *

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *