Flair : Pembuat Espresso Manual

 

Dinamakan Flair Espresso Maker oleh penciptanya Sergio Landau melalui perusahaan Intact Idea LLC berbasis di negara bagian California. Sukses melakukan kampanye pengumpulan dana di situs Kickstarter dan sekarang produknya bisa pembaca dapatkan di Otten Coffee, tempat saya meminjam alat ini untuk keperluan penulisan artikel. Mari kita lihat cara kerjanya.

Serba Manual Hingga Tak Perlu Listrik. Sebagaimana penggiling kopi yang mengandalkan putaran tangan untuk memutar burr, demikian juga dengan beragam peralatan pembuat espresso yang tak harus tergantung ketersediaan arus listrik.

Dengan ciri foot print atau bentuk yang ringkas (kecuali Red Presso) dengan tujuan utama agar mudah digunakan di mana saja dan waktu sesuka Anda sebagai pemakainya, Produk-produk tersebut yang pernah saya tulis antara lain ROK PressoWacaco Mini Presso, Red Presso buatan Irawan Halim dari kota Bandung, dan terakhir adalah Staresso. 

Koreksi: Bukan Tamper Plastik, tapi semestinya adalah Gelas Ukur,

Kelengkapan. Flair sudah dilengkapi dengan koper kecil berwarna hitam agar ringkas dan mudah dibawa-bawa. Di dalamnya terdapat unit Flair yang terdiri dari bagian dasar atau base berikut tuas engkol yang dipasang hanya dengan 1 pengait agar bisa berdiri.

Selanjutnya unit “brew head” yang terdiri dari slinder (group head) yang terbuat dari stainless, portafilter, shower screen, piston, sebuah “funnel” agar memudahkan untuk memasukan kopi ke dalam portafilter, gelas ukur, serta tamper alumunium.

Spesifikasi. Menggunakan material die cast alumunium hingga bobotnya hanya 1.9 kg saja dengan dimensi 30 x 15 x 25 cm. Portafilter bisa menampung kopi hingga 25 gram maksimal dan kapasitas air 65 ml.

Menggunakan Flair. Menurut pengalaman saya, salah satu trik agak sukses menggunakan setiap peralatan espresso manual, selain kopi yang segar bugar, adalah penentuan partikel atau grind size-nya. Jadi sebuah grinder manual ataupun listrik merupakan perangkat yang harus dimiliki agar bisa mengatur kehalusan yang tepat.

Pertama tentunya giling kopi sebanyak 15 hingga 17 gram, sebuah ukuran setelah melakukan beberapa kali percobaan dan pas untuk digunakan pada alat ini. Anda yang tak punya timbangan, bisa menggunakan gelas ukur dengan memasukan biji kopi hingga penuh.

Lalu lakukan tamping seperti biasa hingga padat, tutup dengan screen, dan pasang slinder untuk memasukan air dengan garis batas yang terdapat dalam slinder atau kira-kira 65 ml. Sedikit partikel kopi akan naik ke atas sebagai yang terlihat di atas, tapi menurut penciptanya, hal tersebut tidak akan mempengaruhi kinerja Flair atau rasa kopi.

Terakhir masukan piston dan tekan secara perlahan dan bila grind size-nya terlalu halus, piston tak akan bisa ditekan. Bila mengalami kasus seperti, pengguna tinggal menyesuaikan partikel kopi dengan setting yang lebih kasar hingga akhirnya tak ada halangan saat piston ditekan. Pun bila piston terlalu ringan dan menghasilkan kopi yang under extraction, ubah kembali setting grinder menjadi lebih halus.

Setelah melalui beberapa kali percobaan, kita bisa menghasilkan espresso seperti pada foto di bawah.

Catatan Akhir. Setelah selesai dan kita sudah menikmati hasilnya, bagian yang harus diperhatikan adalah melepas piston dengan menekannya dari bawah, dan ini perlu sedikit mengeluarkan tenaga. Saya membayangkan bila alat ini digunakan untuk keperluan komersial, ada baiknya untuk memiliki slinder dan piston cadangan agar proses kerja lebih cepat.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah suhu air yang cepat turun, jadi pastikan semua peralatan dan kopi sudah terpasang dan langsung mengisi air ke dalam slinder. Cara lain tentunya dengan melakukan pre-heat di bagian slinder untuk meminimalisir turunnya temperatur.

Dibandingkan dengan Red Presso. Pencipta Red Presso, Irawan Halim kemungkinan sudah membayangkan masalah piston dengan slinder hingga ia menyatukannya dengan tuas penekan. Hal ini mengguna tak perlu repot lagi mengeluarkan piston karena sudah menyatu dengan handle. Produk terbaru Red Presso kini sudah dilengkapi dengan manometer untuk melihat secara langsung tekanan yang dihasilkan, yang sayangnya tidak terdapat pada Flair.

Dengan ROK Presso. Alat pembuat espresso manual ini sudah terbukti kehandalannya, walau plastik pinggirannya sering bermasalah, tapi secara keseluruhan ROK sudah menjadi pilihan banyak pengguna, pun dijadikan untuk lahan berbisnis. Sama dengan Red Presso, pada ROK piston sudah menyatu tanpa harus melepasnya saat selesai digunakan.

Tapi secara keseluruhan, Flair cukup mudah digunakan apalagi dengan kopi yang masih fresh dan grind size yang pas, bukan hal yang sulit untuk menghasilkan espresso penuh dengan krema.

Dijual dengan harga 2.5 jutaan untuk para pembaca yang sedang mengeksplorasi alat pembuat espresso manual.

* * *

5 replies
  1. Betty Sudiono
    Betty Sudiono says:

    Wah menarik artikelnya. Saya ingin minta petunjuk, kalau mau beli coffee grinder anfim di jakarta, kira2 dimana ya? atau ada merk lain yg bagus utk espresso, apa ada beberapa pilihan yg bisa dipertimbangkan? tx.

    Reply
  2. Bayu Wardoyo
    Bayu Wardoyo says:

    wah menarik kang @toniwahid dan begitu cek di otten langsung sold out hehehe.. artikel yang bagus seperti biasanya kang! KEREN!

    Reply
  3. gayunda_
    gayunda_ says:

    Terimakasih pak @toniwahid reviewnya…setelah baca, bagi saya pribadi, kesimpulannya ROK Presso belum terkalahkan. (diluar hasil espreso-nya, blm pernah nyoba flair soalnya). Thumb up sir…

    Reply
    • pandu
      pandu says:

      Setuju bro, enak nya lagi rok presso ada porta dan double spout nya, jadi kalo buat jualan kita bisa cepet dan gak ribet, ada lagi om Blackanswered yang buatan jogja itu juga cakep hasil espresso nya..

      Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *