Ka ranah Minang jan lupo minum kopi Solok Radjo

Bukittinggi – Solok. Kalau ke kota Solok saja, perjalanan paling ditempuh sekitar 2 jam dari Bukittinggi. Tapi kemudian mobil harus kembali menempuh lebih dari 50 km ke arah Utara menuju danau Ateh (Atas) yang memakan masa 2 jam. Pemandangan seperti biasa tidak pernah membosankan. Apalagi dengan hamparan perkebunan teh Danau Kembar milik PTPN VI yang menyejukan mata. Sebelum menuju ke kebun kopi, kami dijemput oleh rekan Datuk Pinto Anugrah dan Allan Arthur (Rimbun Coffee), keduanya merupakan penulis di laman Mite Kopi.

Teuku Firmansyah. Lalu kami bertemu  Teuku Firmansyah (31) yang menjemput kami di lokasi kebun. Teuku adalah lulusan Sosiologi dari Universitas Padang yang kemudian memutuskan untuk menjadi petani penggarap di lahan yang kini sudah ditanami kopi.

Hembusan angin sungguh tak bersahabat saat sore itu dan jaket tipis yang saya gunakan rasanya tak mampu menahan iklim dingin yang menusuk di ketinggian sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Walau demikian, inilah kebun kopi dengan pemadangan luar biasa yang tepat berada ditepian danau Ateh.

Teuku menceritakan bahwa tantangan alam di wilayah ini salah satunya adalah terpaan angin kuat yang membuat batang pohon kopi menjadi labil. Kelompok tani di sini tengah memulai untuk menanam tanaman penahan angin berupa ekaliptus. Tidak cukup itu saja, bibit lamtorogung sudah disiapkan untuk mulai disemai yang fungsinya sebagai pohon peneduh kopi.

Alfridiansyah dan Pengembangan Kopi Solok. Dengan wajah masam tauke di pasar Solok hanya menimbang tanpa memberitahukan berapa berat kopi yang dibawa oleh Alfridiansyah (Adi).

Waktu itu sekitar akhir tahun 2012 dan kebunnya hanya menghasilkan beberapa kilogram kopi saja. Adi baru saja pulang kampung setelah terlibat dalam sebuah proyek pengembangan kakao, walau saat itu proposalnya ditolak.

Bersama dosen jurusan Pertanian ia mengadakan sebuah riset kecil-kecilan tentang kelayakan pengembangan kopi di Sumatra Barat. Hasilnya, kopi bisa dikembangkan dan menguntungkan secara bisnis setelah mengetahui kisaran harga cherry-nya yang bisa di atas 5.000 per kilogram.

Hasil riset tak sejalan dengan harapan. Sayang hasil riset tak sejalan dengan kenyataan di lapangan karena harga kopi yang ia jajakan hanya dihargai paling mahal di angka 2.000 per kilogram-nya. Bagaimana kalau cherry diproses dulu menjadi gabah ? Harapan Adi harganya akan naik, tapi lagi-lagi pembelinya tetap bersikukuh dengan harga sebelumnya.

Adi tak patah semangat, ia mulai mendata teman-teman seperjuangan yang punya misi yang sama di Solok, menaikan harga kopi. Mereka semua bergabung dan membentuk sebuah aliansi untuk bersama-sama melakukan pengolahan kopi. Selain agar organisasi ini punya daya tawar yang lebih kuat di hadapan para pembeli.

Membentuk Kelompok Tani dan bertemu Mira Yudhawati. Usul Adi disetujui dan mulailah mereka secara bersama-sama melakukan proses pengolahan dengan alat-alat sederhana, kecuali huller (membuka cangkang kopi) karena alatnya tak tersedia. Kesemua teknik pengolahan cukup didapatkan dari internet.

Tapi keberuntungan belum diraih para petani di Solok karena walaupun kopi sudah diproses sedemikian rupa, harga enggan beranjak naik. Padahal di gudang sudah terkumpul 600 kilogram kopi hasil kerja teman-temannya.

Solusi sementara datang dari salah satu dosennya yang kebetulan ingin mencoba berbisnis kopi. Tentu girang saat kopinya dihargai 48 ribu per kilo dan jadilah sang dosen sebagai pelanggan tetap yang sampai mau membeli mesin huller sendiri dari Jakarta. Sampai akhirnya bisnis kopi pak dosen tak kunjung dilakukan karena satu dan lain hal, maka terpaksa penjualan dihentikan karena gabah kering sudah mencapai 2 ton.

Ia nekat ke Jakarta setelah menemukan artikeldi cikopi tentang Headline yang memuat Mira Yudhawati sebagai seorang Q Grader. Akhirnya Adi bertemu Mira yang dengan senang hati melakukan uji cita rasa kopinya yang lalu ia promosikan di berbagai media sosial dan mendapatkan sambutan hangat.

 

Membentuk Koperasi Solok Radjo. Setelah kembali ke Solok dan yakin akan pengembangan kopi di daerahnya, Adi memutuskan untuk membentuk koperasi di bulan Agustus tahun 2014. Hingga saat ini anggotanya sudah mencapai angka 560 orang, sebuah jumlah yang merupakan refleksi akan kegairahan para petani kopi di kawasan Solok.

Jumlah tersebut sebenarnya jauh lebih besar, cuma pendaftaran anggota baru harus ditahan terlebih dahulu karena usianya yang masih muda, jadi masih belum bisa mengakomodasi kebutuhan para petani. Misalnya dalam masalah pembibitan, pendampingan untuk cara tanam dan budidaya, penanggulangan hama hingga pengawasan unit pengolah hasil.

Q Grader dan 16 ton kopi. Kopi Solok mulai ramai terdengar dan keberuntungan lain menghampiri Adi saat ia memenangkan sebuah seleksi pelatihan Q Grader. Ini titel yang ia butuhkan untuk mengangkat kredibilitasnya di hadapan para pembeli yang kerap meminta sertifikat tersebut.

Kini sejak tahun 2014, kelompok tani mereka sudah melakukan pembibitan sendiri di bukit Tabuah dengan jumlah 100 ribu saat awal Adi mulai menyemai varian “Sigarar Utang”. Dengan masing-masing kepala keluarga memiliki lahan 4 hingga 6 hektar, diharapkan mereka ditargetkan bisa menanam hingga 500 batang pohon per hektar nya, walau pencapaiannya masih di kisaran 200 batang.

Kini Solok Radjo menggandeng Fakultas Pertanian Universitas Andalas yang membantu para mahasiswanya untuk mengadakan penelitian untuk tugas akhir. Salah satunya meneliti cita rasa kopi Solok berdasarkan varietas dan ketinggian tanam dan ditemukan bahwa bibit kopi Sigarar Utang lebih sesuai ditanam di sini.

Di tahun 2016 Sumatra Arabika Minang Solok (nama Indikasi geografis-nya) membukukan 16 ton beras kopi atau green bean, dan menurut Adi jumlah tersebut akan ditingkatkan di tahun 2017.

Kini bukan Adi yang mendatangi pembeli, tapi sebaliknya, banyak sudah pembeli yang bertandang ke kebunnya. Sebuah hasil kerja keras dan dedikasi kelompok tani yang diorganisir oleh Adi bersama rekan-rekannya. Daerah lain di sekitar kawasan Solok tentunya akan segera menyusul yang tentunya akan menambah khazanah kopi dari ranah Minang.

Datuk Pinto. Satu lagi, bila Anda senggang, bacalah Mite Kopi, sebuah web yang mengulas tentang sejarah kopi di Sumatra Barat untuk memperkaya literasi kita tentang bagaiaman tradisi minum kopi di propinsi ini yang ternyata sudah berusia 5 abad.

Pertemuan dengan Pinto tentu saya manfaatkan untuk lebih jauh menggali persilangan budaya Sumbar dengan kopi yang semua ulasannya bisa Anda dapatkan di situs yang ia kelola tersebut bersama Allan Arthur dari Rimbun Coffee.

Saya harus mengakhir penulisan artikel yang cukup panjang ini seraya menghaturkan terima kasih kepada semua sahabat di Sumbar yang sudah memfasilitasi kunjungan ke berbagai tempat selama saya berada di sana.

Buah pinang jo buah palo
Jikok ka ranah Minang
jan lupo minum kopi Solok Radjo 🙂

 *  *  *

ff

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *