pilastro

Berkali-kali Benny Kurniawan Winsen (35) menekankan kata “edukasi” setiap kali saya terlibat diskusi dengan pemilik Pilastro, sebuah coffee shop yang usianya menjelang tahun ke-2 di pusat kota Medan. Bagi lulusan Mechanical Engineering, Universitas Tarumanegara tahun 2001 ini, salah satu jalan untuk lebih mengenalkan kopi kepada publik adalah dengan memberikan perspektif baru khususnya kepada pengunjung Pilastro. 

pil1

Ini kali kedua saya berkunjung di kota Medan, setelah sebelumnya di tahun 2010 untuk pertama kali saya mulai menurunkan sekilas tulisan tentang beberapa kedai kopi di sini. Saat itu bagaikan rentak atau  birama 2/4 dalam khazanah musik Melayu Deli yang tak terlalu cepat, demikian juga kondisi yang terlihat pada saat itu, secara kasat mata tentunya.

Tapi kini keadaan sudah jauh berbeda dan beberapa coffee shop yang bermunculan mulai mengusung tema “crafted coffee” dan salah satunya yang tentu layak saya tuliskan adalah Pilastro. Lokasinya berada tepat di pusat kota yang berhadapan dengan Lapangan Merdeka yang masyhur, Pilastro berdiri tegak dalam sebuah bangunan yang terdiri dari tiga lantai, tapi hanya dua yang digunakan untuk pengunjung.

pil2

Dari perbincangan dengan Benny saya bisa tahu bahwa upaya pria kelahiran Medan ini tak hendak untuk berhenti dan menjadikan Pilastro sebagai salah satu tempat untuk mendapatkan kopi-kopi yang tak masuk dalam perbendaharaan di tempat lainnya. Walau ia harus mengakui bahwa kadang pasokan kopi yang diminati untuk diperkenalkan di kedai kopinya seringkali datang terlambat.

Sembari bercanda ia menyitir bahwa petugas roasting langganannya punya sifat yang kadang tak bisa ditebak sehingga sedikit banyak mempengaruhi stok yang ada. Tapi untunglah saat kemarin masih ada sedikit sisa Yirgacheffe dan kopi asal Papua Nugini yang ia seduh sendiri untuk kami nikmati bersama.

bk

Tapi tentu Benny tak menafikan selera pengunung di Pilastro yang beragam, tapi kisaran angka di atas 10% untuk kopi yang  diseduh dengan filter  sebagaimana catatannya tentu sebuah pencapaian yang menggembirakan untuk ukuran sebuah kota seperti Medan.

Upaya yang sudah ia tempuh tentunya tak mudah, tapi Pilastro tak berniat mau berhenti, setidaknya menyampaikan pesan ini secara terus menerus. Mengapa kopi rasanya asam, mengapa harus diseduh dengan cara manual, dan berbagai “mengapa” yang harus ia jawab dengan sabar dari setiap pengunjungnya.

IMG_0434

Bagi Anda yang berkesempatan berkunjung ke Medan, Pilastro adalah tempat yang saya rekomendasikan sebagai tempat pemberhentian pertama untuk secangkir kopi. Tak ada menu makanan tradisional di Pilastro kecuali nasi goreng, selebihnya adalah menu makanan Barat.

Menurut Benny, sebelumnya ia pernah menyajikan makanan tradisional seperti kwetiau, tapi harus ia hentikan karena dirasa tak sejalan dengan konsep cafe-nya. Tapi pilihan kopi cukup beragam, baik milk based maupun filter dengan roastery dari Singapura dan Jakarta yang saat ini menjadi pemasok tetapnya.

apil

Kini di bulan Agustus mendatang, mereka akan merayakan usianya yang ke-2 tahun sekaligus sebuah testamen akan daya tahan Pilastro sebagai sebuah lokasi pilihan bagi para pecinta kopi atau makanan yang menjadi menu utama di sini.

Tulisan ini dibuat sebagai penghargaan saya terhadap Benny Kurniwan Winsen yang sudah menjadikan Pilastro sebagai salah satu ujung tombak wajah coffee shop di kota Medan yang bisa disandingkan dengan nama besar lainnya seperti kota Jakarta untuk urusan crafted coffee. 

*  *  *

pil5

IMG_0439

2 replies
  1. Sutrisno-Maktal Coffee Bar
    Sutrisno-Maktal Coffee Bar says:

    Congratz bro Benny..jadi ngga sabar main ke Medan dan mampir di Pilastro..sukses selalu yaaa

    Reply

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *