Seoul : Kopi Hingga DMZ

“Mohon Anda semua menandatangi surat pernyataan bahwa segala resiko termasuk kematian yang mungkin terjadi sepenuhnya ditanggung sendiri”. Demikian brifing di Camp Bonifas dari  seorang tentara Amerika Serikat terhadap seratusan orang yang mengikuti tur Demiliterized Zone (DMZ) termasuk saya. Kunjungan ke tempat ini sudah saya rencanakan jauh2 hari sebelumnya, cuma ingin melihat garis paralel 38 derajat yang memisahkan semenanjung Korea sejak perang saudara 1950-1953.  Setelah menginjakan kaki di lantai 104 World Trade Center di NY tahun 2000, kunjungan ke DMZ adalah pengalaman tak terlupakan sekaligus menegangkan. Ini sebagai selingan sebelum saya memuat artikel terakhir tentang cafe terfavorit selama kunjungan di Korea minggu kemarin.

Kedisiplinan, kerja keras, efisiensi sepertinya sudah menjadi trah bangsa Korea. Sejak menginjakan kaki di Incheon Airport yang luar biasa modern-nya, aura industrialisasi Korea sudah mulai terasa. Semua ditata serba otomatis, efisien, dan cepat ditanggulangi saat terjadi hambatan, sekecil apapun, tanpa kompromi. Conveyor belt claim baggage yang membawa koper saya agak macet, tak kurang dari sekian detik, seorang petugas dengan sigap melakukan perbaikan. Sebentar kemudian Supervisor-nya datang memeriksa dan memastikan semua berjalan normal kembali. Tidak kurang dari tiga menit semua sudah berjalan mulus kembali.


Antrian imigrasi luar biasa cepatnya dengan meja pemeriksaan yang berjajar dan petugas yang selalu sigap. Selama di imigrasi tidak ada pertanyaan satupun yang mereka ajukan selama semua dokumen lengkap. Demikian juga saat menunggu antrian bis yang akan membawa ke hotel yang jadwalnya tertera pukul 07.58. Coba bayangkan, waktu dihitung menit per menit dan bis memang datang tepat seperti yang tertera dalam jadwal pemberangkatan. Welcome to Seoul !

Hotel yang saya tempati berada di tengah kota Seoul dan ditempuh dalam waktu satu jam dari airport. Sepanjang perjalanan menuju ke hotel, rasanya tidak berhenti mengelus dada melihat kehebatan negara ini, sebuah wilayah yang miskin sumber daya alam, tapi berada di posisi terdepan karena kemajuan teknologi dan infrastrukturnya. Merek mobil yang berseliweran di jalan didominasi oleh buatan Korea. Satu dua terdapat kendaraan buatan Jepang dan Amerika, tapi jumlahnya tidak seperti di Jakarta. Semakin memasuki jantung kota Seoul, bangunan mulai didominasi oleh gedung pencakar langit dan apartemen. Seoul sudah demikian padat dengan kepadatan penduduk lebih dari 10 juta orang. Kemacetan selalu tampak di sana-sini walau kota ini sudah dilengkapi dengan sistem subway yang sangat nyaman dan transportasi publik lain seperti bis yang punya jalur khusus. Oh ya, mereka selalu antri, sepadat apapun 🙂

KOPI. Berbicara mengenai kopi, seperti yang sudah saya kemukakan, masyarakat di sini sudah menganggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Sekali lagi, mungkin hampir setiap 100 meter selalu terdapat warung kopi apalagi di perkotaan yang dijadikan tempat sosialisasi oleh masyarakat sana hampir sepanjang waktu. Di kantor yang didominasi oleh kaum perempuan, saya menemukan fenomena yang sama. Alat seduh berupa drip filter merek Hario, Melita, Kalita, sudah menjadi hal yang wajib ada di pantry. Setiap waktu istirahat mereka berloma-lomba menyeduh kopi yang dibawa sendiri dari roaster favoritnya.

Setidaknya ada tiga jenis kultur kopi yang saya lihat di negara ini, pertama yang tradisional dan melakukan roasting kopi sendiri.  Kedua, jenis waralaba atau jaringan pertokoan seperti Coffee Monkeys, Beanbins, Egro, dan berbagai merek yang saya tidak kenal. Terakhir dan yang sedang booming, third wave. Semuanya punya ciri khas masing2, tapi saya selalu melihat bahwa mesin roasting ukuran satu kilogram seakan wajib ada, terutama di cafe tradisional, apalagi yang third wave.

Di Indonesia saya sudah melihat trend yang sama dimana beberapa coffee shop mulai melakukan eksplorasi utnuk memiliki mesin roasting sendiri. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, trend ini akan semakin meluas dimana mesin sangrai kopi dengan kapasitas satu kilogram akan menjadi pemandangan yang biasa. Kisaran harga 60 hingga maksimal 70 juta untuk mesin roasting kecil tentunya cukup menggoda bagi para pemilik cafe yang tidak ingin selalu tergantung dari pemasok kopi. Artisan coffee shop dengan mesin roasting sendiri adalah “racun” terbaru dari blog ini :).

DMZ. Dilarang menggunakan sandal, kacamata hitam, jean robek, jersey, shaggy pants. Itulah sebagian isi email yang saya terima dari perusahaan wisata yang akan mengantar saya ke Demilitarized Zone (DMZ). Saya mahfum, kalau hal2 kecil seperti isi email tersebut merupakan alat propaganda ampuh bagi pihak Korut untuk membutakan rakyatnya melalui jargon demoralisasi dan kemiskinan (sandal ? 🙂 ).

Jam 6.30 pagi saya sudah bergegas pergi dari hotel dengan menumpang taksi ke salah sebuah markas tentara dimana dua bis sudah menunggu kedatangan para wisatawan yang didominasi oleh warga Amerika. Tepat pukul 07.30 saat semua peserta sudah memasuki bis, mulailah perjalanan ke DMZ, sebuah garis gencatan senjata yang membelah Korea sejak tahun 1953.

Sekitar 90 menit rombongan sudah mulai memasuki Pan Mun Jom, daerah terakhir di sebelah Utara Korsel. Beberapa kilometer sebelum memasuki DMZ sudah mulai terasa atmosfir ketegangan dimana para tentara Korsel melakukan barikade dan terakhir seorang tentara Amerika memeriksa identitas setiap peserta. Bis belum dizinkan jalan dan harus menunggu izin untuk mulai masuk pagar JSA (Joint Security Area). Kemudian seluruh peserta dikumpulkan di sebuah ruangan dan dilakukan penjelasan oleh petugs mengeni DMZ termasuk sejarah dan beberapa insiden berdarah yang terjadi selama ini. Setelah itu kami diminta untuk menandatangani pernyataan bahwa segala hal yang diakibatkan oleh tur ini termasuk kemungkina cidera hingga kematian merupakan tanggung jawab sendiri. Baiklah.

DMZ hanyalah sebuah garis demarkasi di Pan Mun Jom , satu jam dari kota Seoul yang membentang  di 38 derajat paralel yang memisahkan kedua Korea dengan lebar empat kilometer. Memasuki DMZ adalah melihat kewaspadaan tinggi tentara Korea dan Amerika dengan senjata yang siap ditembakan setiap saat. Mereka adalah prajurit pilihan yang selama 24 jam berada di garis depan musuh dalam jarak hanya puluhan meter saja. Bis yang saya tumpangi harus melewati banyak barikade dan pemeriksaan sebelum dizinkan keluar oleh tentara Amerika. Walau diperkenankan membawa kamera, tapi tidak sembarang bisa memotret di lokasi2 tertentu.

Pemandu selalu mengingatkan peserta tur agar tidak membuat provokasi sekecil apapun termasuk menunjuk yang akan menarik perhatian tentara Korea Utara yang juga menyiapkan pasukan tempur di perbatasan. Hanya berjarak puluhan meter, dua tentara Korea Utara memperhatikan rombongan turis dengan binocular. “This is a hostile area” begitu tentara Amerika mengingatkan kami saat ia meneritakan bagaimana seorangturis perempuan ditembak mati oleh tentara Korut karena dicurigai akan memasuki perbatasan. Tanpa peringatan.

Bridge of No Return adalah julukan yang diberikan kepada sebuah jembatan kecil tempat pertukaran tawanan kedua belah pihak. Dulunya saat berakhirnya perang Korea, para tawanan perang Korut dipersilakan untuk memilih pihak Utara atau Selatan, sebuah opsi terakhir tanpa kemungkinan untuk kembali lagi. Selamanya. Bila anda memperhatikan film James Bond, dengan judul  “Die Another Day”, sutradaranya menggunakan jembatan ini dalam salah satu adegannya, tentu saja pengambilan gambarnya bukan di sini.

Tur dilanjutkan dengan mengunjungi terowongan rahasia yang berhasil ditemukan pada tahun 1974 akibat seorang tentara Korut yang membelot. terdapat empat terowongan yang digali oleh pihak Korut dalam rencana penyerangan ke Korsel. Satu terowongan dipertunjukan kepada para turis dimana kami harus menuruni sebuah ruangan sepanjang 400m dengan menggunakan helm lapangan agar kepala tidak terantuk. Turunnya sih gampang, tapi naik kembali sepanjang ratusan meter dengan sudut 30 derajat sungguh menguras tenaga.

Unifikasi atau penyatuan dua Korea mungkin masih panjang walau di stasiun kereta Dorasan kata “To Pyongyang” masih tetap terpasang.

* * * * *

9 replies
  1. martalena
    martalena says:

    Mas toni… saya mau tanya nih .. boleh sharing prosedur mengunjungi daerah DMZ mas ? karena saya ada rencana mau ke korea selatan… kalau diperbolehkan korespondensi via email bisa mas?
    terima kasih

  2. chris
    chris says:

    Best post ever…

    Sepertinya pak TW mengeluarkan segala kesaktiannya di posting ini..haha

    Tulisannya yahud, dan semua fotonya ciamik.Foto #1 jadi favorite saya,kerenn.

    salam jepret 🙂

  3. Enrico
    Enrico says:

    Hmmm kayaknya sih yang disebut Pv. Anderson itu Captain. Soale di belakang topi ada 2 silver bar :p CMIIW. Kalau private singkatannya PVT.

    Saya masih ngimpi utk ke DMZ hehehe… Untung Kang Toni dateng kemaren2… Kalo sekarang, sudah mode pulang kampung, karena 25 Januari evakuasi wajib WNI dari Korea Selatan, perintah KBRI Seoul.

    Untuk urusan kepangkatan saya percaya sama Kang Enrico. Kalau begitu si Kapten ini yang mendampingi rombongan selama DMZ 🙂

  4. Yoga
    Yoga says:

    What a great journey, Mas Toni. 🙂
    Senang baca cafelogue selama di Korea. Btw, rata-rata pantry di sana punya Hario? *gigit jari*

    Hario dan berbagai merek lainnya …

Comments are closed.