Hario VS Tiamo

Kalau merek Hario agak susah ditemukan, pilihan lain yang bisa dijadikan alternatif adalah merek Tiamo, dripper buatan Taiwan dan dengan harga yang lebih murah tentunya. Heri Setiadi dari Cafe La Tazza yang adalah salah satu pengguna setia merek Tiamo sejak dulu dan ia membawakan alat ini ke rumah saya beserta kopi2 pilihannya untuk kami nikmati bersama. Hadir dalam pertemuan tanggal 9 November kemarin adalah Mira Yudhawati (Q Grader dari Caswell), Anang Pradipta (gantibaju.com, @unwinged), Astrid (@resepmini), Yudistira Bawono(@tukangkopi) dan istri Fani, Hendri Kurniawan, dan rekan Mirza Luqman. Satu lagi, bahwa benar blog ini terus mempromosikan metode pour over agar semakin populer terutama buat cafe2 yang akan menjadi atraksi menarik untuk pengunjung bila dilengkapi dengan coffee drip bar.

Bila sesekali ke Electronic City di kawasan SCBD Sudirman, di sanalah letak Cafe la Tazza, tepatnya di lantai 2. Heri Setiadi merupakan salah satu Q Grader, cupper, atau pencicip kopi yang bersertifikasi sekaligus anggota Asosiasi Kopi Spesial Indonesia.

Berbeda dengan Mirza, Hendri dan saya yang lebih suka gram vs gram, Heri memilih gram dan volume air dengan rasio brewing 10gr kopi dengan 150ml air.

Rasio inilah yang ia gunakan untuk menyeduh kopi dengan Tiamo yang ritualnya hampir sama dengan posting saya terdahulu (8/130). Walaupun rasio brewing dari SCAA (Asosiasi Kopi Spesial Amerika) sekitar 10gr kopi untuk 170ml air (mohon koreksi bila salah), kami juga mencoba berbagai macam kombinasi kopi dan volume dan/atau berat air sesuai selera masing2, intinya the coffee that pleases our taste.

Tiamo atau Hario ? Kesimpulannya, saya pilih kedua produk ini untuk digunakan sehari-hari. Perbedaan antara keduanya bisa dilihat dari foto2 di bawah yang menjelaskan spesifikasinya.

Malam menyenangkan, padahal dua tamu kehormatan saya, Anang dan Astrid baru pertama kali melihat datang ke rumah selain Heri. Jadi, acara selanjutnya sedang saya rencanakan,  dan saya ucapkan terima kasih kepada semua rekan2 yang telah datang malam kemarin, mohon maaf, satenya memang enak bukan ? 🙂

* * * * *


15 replies
  1. selaikaya
    selaikaya says:

    Maaf Pak Toni, ikut nimbrung , lain kali kalau ada acara kumpul2 begini , jangan lupa kontak ke selaikayacikitta (dewi) , jadi pengen sponsor selaikaya untuk polesan kayatoast , biar komplit acara ngumpulnya,..” ngobrol, teman , kopi dan kaya toast… ” mantapp

  2. ugie
    ugie says:

    pak maaf permisi ya….
    ikut nimbrung heheheh
    q tau blok ini dr majala yg saya bc d outlet
    ter nyata banyak ilmu n pengetahuannya,,
    kapan lg majalahnya beredar d sutos,,,,

  3. Harbudi
    Harbudi says:

    Sip mas Enrico, jadi tidak perlu puyeng dengan berat biji kopi atau bubuk. Biar yang puyeng, kawan di pabrik kopi saja, kehilangan 10-15% dari bobot biji ke bubuk karena bubuk kopinya disruput mesin dan udara haha….

    Kalau kita mak ler saja, karena biji setelah di grind bobotnya relatif hampir sama. jadi tinggal srutup saja.

    Sampai 50/1000 juga tidak membawa pengaruh pada flavor Pak. Saya yakin dewa cupper saja tidak akan tahu haha…

    Memang jika menggunakan Burr grinder pro, hasil grind pertama agak berkurang bobotnya hingga 10%. Tapi putaran berikutnya, pasti hanya akan berkurang sekitar 9/1000

  4. Enrico
    Enrico says:

    mantap pak budi. berarti sebenarnya saya ga perlu donk nanya “beratnya berat kopi atau bubuk?” karena memang sangat kecil pengaruhnya.

    atau di espresso, penyusutan 9/1000 itu ngaruh besar??? kalau manual pour jelas ga besar… secara grind settingnya aja ga fine2 amat, hehehe…

  5. Budi
    Budi says:

    Sedikit ikut berbagi pengalaman Pak Toni. Standar SCAA adalah 8,5g utk 150cc air. Memang protokol itu adalah berat bubuk kopi. Tapi pengalaman saya, bahkan di SCAA sendiri (bahkan saya ngopi bareng chief instructornya)kopi yang ditimbang 8,5g adalah biji kopi. Waktu saya pertanyakan teori “penyusutan” biji ke bubuk, jawabnya “ah terlalu kecil jadi abaikan saja”. Karena penasaran saya bereksperimen sendiri, “berapa persen penyusutan biji ke bubuk”. Saya gunakan burr grinder, chopper hingga Hario MCS-2 hand grinder. Ternyata yang terbaik adalah Hario MCS-2, penyusutan hanya 4/1000. Burr grinder untuk rumahan hanya 6/1000. Bahkan burr grinder pro pun tidak pernah lebih dari 9/1000. Jadi teori penyusutan hingga sekian persen dari biji ke bubuk itu bisa diabaikan. Alias mithos belaka. Memang jika biji kopi digrind superfine dan dengan grinder komersial yang “jorok” alias bubuk terbang ke sana-sini, menempel di part mesin, atau ditilep tukang timbang hehe…ya benar. Jadi mitos teori penyusutan sekitar 10% tidak bisa diterima hehe… Mythbuster

    I see … jadi kalau dalam bahasa statistik, korelasinya terlalu kecil ya Kang, tidak signifikan ?
    Hmmm … tukang timbang ternyata he he he.

  6. frans
    frans says:

    salam kenal pak Toni,

    sekedar tanya, info bapak yang menggunakan 10 gr/150ml itu untuk ukuran bubuk atau bean ya? coz waktu apresiasi, info yg saya dpt 8 – 8,5 gr/150ml utk stndrd scaa. maaf jk keliru 🙂

    Untuk berat biji kopi pak, jadi bukan bubuk.

  7. frans
    frans says:

    tempat persisnya saya agak lupa, tapi namanya java qahwa, nanti sy coba tanya teman lagi. ini tempat sekolah kopi, waktu ini diajak teman buat belajar “apresiasi kopi”, setelah selesai terus beli hario coffee syphon. lumayan skalian buat praktek.

  8. Enrico
    Enrico says:

    tepatnya dimananya cilandak pak, apakah Citos atau dimana? siapa tahu saya sekalian lewat, hehehe.

  9. frans
    frans says:

    Pagi semua,
    Setau saya kalo mo cari-cari alat kopi produk Hario dr Jepang ada yang jual di daerah Cilandak, Komplit lho dr mulai grinder sampai syphon.

  10. Enrico
    Enrico says:

    Harusnya sih akhir2 tahun ketika kerjaan kantor “mereda”, saya bisa banyak di Jakarta, hehehe… siap lah kang utk ngumpul hehehe. Ah saya mah ga ikutan third wave kang, cuma lagi berusaha minum kopi setiap hari (supaya stok kopi cepet abis :p)

  11. Enrico
    Enrico says:

    komen singkat saja :

    NGACAAAAAIII…

    Paging Mr. Enrico … kapan maen ke rumah dan mempraktekan third wave coffee-nya buat saya 😀

  12. Lulu
    Lulu says:

    Sedaap, pertemuan sederhana yang berkesan pastinya 🙂
    Mesti ikut nih kalau kapan-kapan kawan-kawan ranah maya kopi darat lagi.

    Siap ! Janjian, sekalian dengan Kang Adi yang sudah beberapa kali ke rumah 🙂

Comments are closed.