Mencari kafein di San Francisco

Saya mencoba membayangkan peristiwa Boston Tea Party di tahun 1773 saat minum teh dianggap tindakan pengkhianatan kepada calon negara Amerika yang sedang diperjuangkan pada saat itu. Sejak peristiwa bersejarah tersebut, kopi menjadi minuman yang menggantikan teh dan langsung diimport dari Karibia dan Belanda. Tanpa peristiwa bersejarah ini, mungkin saja Amerika, sebagaimana Inggris akan dikenal sebagai negara pengkonsumsi teh dan bukan peminum 400 juta gelas kopi perhari sebagaimana yang dikenal saat ini. Ketikat saya berada di San Francisco minggu kemarin, saya menyaksikan betapa kopi telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat kota ini dan juga kota2 lainnya di Amerika. Setiap pagi  yang seringkali berkabut di kota San Francisco, para pekerja kantoran banyak terlihat antri di berbagai warung kopi termasuk tentu saja Starbucks yang keberadaanya begitu menjamur di kota yang terletak ditepian lautan Pasifik. Inilah sekilas pengamatan saya terhadap minuman yang begitu dicintai sebagaiamana bir pada masyarakat Jerman saat melakukan kunjungan berbarengan dengan tugas dari kantor.

Gerai kopi Starbucks paling gampang ditemui di kota ini karena keberadaannya begitu ubiquitous atau menjamur dimana-mana. Tapi tentu saja bukan hanya hanya gerai kopi Starbucks Starbucks, tapi juga di warung2 kopi lainnya yang menyediakan penganan untuk sarapan pagi bagi masyarakat San Francisco. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh organisasi National Coffee Association, angka peminum kopi di Amerika cenderung meningkat, dimana setiap orang Amerika dewasa menghabiskan 1.6 cangkir kopi per hari atau 400 juta cangkir per hari. Fantastis bukan ? Kopi sudah menjadi bagian keseharian penduduk Amerika dan dari sumber yang sama, 60% menikmati kopi saat sarapan. Jadi bukanlah pemandangan aneh jika saya menyaksikan orang2 memegang cangkir kopi untuk memulai harinya di kota yang punya cuaca aneh karena perubahan dari suhu panas ke dingin begitu cepatnya.

Kopi di atas saya dapatkan di toko Seven Eleven, semacam Indomaret, dengan harga 1.5 dolar di tengah malam saat tiba di hotel dalam cuaca yang cukup membuat badan menggigil. Mereka menggunakan sistem drip, jadi pengunjung tinggal menekan tombol grinder yang telah disesuaikan, tampung kopinya di atas filter kertas, masukan ke alatnya dan tuang air. Semuanya self service atau harus dilakukan sendiri dan kita tinggal memberikan uang kepada kasir. Praktis.

Entah mengapa, saya lebih menikmati kopi di cuaca dingin, saat suhu pagi membuat empat lapis pakaian masih belum bisa menahan hembusan angin dan kabut dingin lautan Pasifik. Secangkir kopi panas tanpa gula dengan sepotong donat coklat sudah cukup memberikan kehangatan dan sekedar mengganjal perut hingga siang nanti. Pengalaman ini selalu mengingatkan saya betapa dahsyatnya untuk melukiskan ekstasi kenikmatan secangkir kopi panas saat saya berkunjung ke Toronto, Kanada, satu dekade yang lalu. Sepertinya berlebihan, tapi tanpa pengalaman “rohani” tadi, blog kopi ini mungkin tidak akan terwujud.

Jadi bagaimana kalau kita ingin mengklasifikasikan tipe penimum kopi khususnya di San Francisco ? Tidak mudah dengan kunjungan yang super singkat ini, tapi moga2 dengan pengamatan saya bisa membuat sebuah catatan yang menarik tentang penikmat kopi di kota ini.

Pertama, konsumen di San Francisco tidak main-main dengan komitmen mereka dengan bahan2 organik atau diproduksi tanpa menggunakan pestisida dan mengindahkan sustainable environment. Bahan organik sudah menjadi bagian keseharian mereka dan dijadikan salah satu resep untuk menarik konsumen di kota ini.   Begitu juga halnya dengan kopi, bukan saja mereka lebih memilih yang kopi organik, tapi juga diproduksi tanpa merugikan para petani. Sebagai informasi, San Francisco adalah salah satu pusat LSM dan advokasi konsumen terbesar di Amerika dengan jajaran penasihat hukum yang bisa membuat korporasi berpikir dua kali untuk melakukan fraud atau penipuan kepada konsumen. Inilah jenis konsumen kopi pertama yang punya kepedulian bukan hanya pada rasa kopi, tapi juga komitmen perusahaan tersebut dalam tanggung jawab sosialnya kepada komunitas.  Jumlah mereka tidak sebesar konsumen jenis kedua di bawah ini, tapi suara mereka merupakan acuan penting dan bisa mengubah opini publik peminum kopi di Amerika.

Konsumen kedua lebih bersifat umum, mereka menikmati kopi sebagai sebuah kebutuhan sehari-hari dan bukan lagi sebagai gaya hidup. Sebanyak 65% masyarakat Amerika menjadikan kopi sebagai minuman wajib dalam ritual sarapan mereka. Pekerja kantoran atau kelas menengah Amerika biasanya  memilih Starbucks atau perusahaan kopi seperti Blue Bottle, Folgers,  dan beberapa jaringan kopi lainnya.

Terakhir tentu saja para penggemar specialty coffee yang mencari kenikmatan fullest dalam segelas kopi. Inilah para penikmat kopi yang tidak larut dalam mainstream gourmet coffee, tapi mencari roaster terbaik seperti Peets Coffee dan Ritual Roaster atau Buena Vista Cafe yang terkenal dengan Irish Coffee-nya.

Ah tentu saja ini pengklasifikasian sederhana berdasarkan pengamatan kasat mata. Terlepas dari penggolongan sederhana yang saya buat, secangkir kopi memang selalu menjadi teman setia bagi penduduk di Bay Area dan San Francisco pada umumnya karena ia selalu setia memberikan kehangatan dalam cuaca dingin yang begitu menggigit saat saya berada di kota ini. Satu hal lagi, kopi Indonesia mendapat tempat terhormat di setiap cafe yang saya kunjungi. Selalu saja terdapat single origin dari berbagai wilayah penghasil kopi seperti Aceh, Toraja, hingga Papua. Benar kata teman saya yang juga penggemar kopi Indonesia tentang alasannya menggemari kopi ini, it’s bold, elegant, and sexy.

8 replies
  1. budi
    budi says:

    do they still have the “clover” ? The rumour is that most of the 3rd wave already abandon clover since Starbutt own it. Don’t know about bluebottle but intelli did exactly that.

    I haven’t seen this in their premises, simply they are using pour over method. This techie looks gorgeous, but so expensive for a modest brewing method, right ?

  2. budi
    budi says:

    wow, what a nice trip pak Toni :-)
    BTW what kind of machine their us in BlueBottle? Is it the KvdW IdroCompresso like their branch in Museum of Modern Art? And somehow hoping you could take picture inside their cafe, o well that’s just a hope :-)

    Wah sayang saya gak sempat ke Blue Bottle yang punya mesin Siphon seharga 20 ribu US$ itu pak. Next time, saya harus ke sini.

  3. Andi Sanaf
    Andi Sanaf says:

    mas Toni, mungkin gak yg amerika impor kopi dari belanda di tahun 1773-an itu kopinya indonesia? sebab indonesia masih dijajah belanda saat itu.
    saya bersyukur kopi indonesia terkenal di dunia dan kita yg tinggal di indonesia bisa menikmati kopi lokal (dan enak) dengan harga yang relatif murah.

    Tepat sekali Mas. Karena waktu tempuh yang lama karena melalui jalan laut, maka kopinya memasuki proses aging. Kopi inilah yang banyak dinikmati di sana pada saat itu.

  4. Levi Sianturi
    Levi Sianturi says:

    ditunggu liputan buena vistanya pak :) ahh.. susah bener cari irsh whiskey di sini hehehe

  5. therry
    therry says:

    It seems that you have left your heart in San Francisco neh… 😉

    Asyik juga minum kopi di SF, gue kapan ya? He3x…

    Left my heart in NY for sure :) Honeymoon di sana he he he

  6. Charles
    Charles says:

    Mantab Pak Toni, kalau bawa oleh-oleh bean langsung dari Indonesia mereka girang kali yah? Tapi bisa lewatin customs gak yah bawa coffee bean?

    Bawa kopi, tapi titipan orang pak :(

Comments are closed.