Tidak semua luwak suka kopi

Ada beberapa mitos yang harus diluruskan mengenai kopi luwak yang eksotismenya menjadi daya tarik terutama di negara-negara Barat. Pengalaman penangkaran binatang luwak yang dilakukan oleh PT Perkebunan XII di Jawa Timur  sungguh sangat menarik dalam kaitan dengan produksi kopi luwak dari perusahaan plat merah ini.  Ir. Adi Purwatmoko  bersama Dudiek Polii, dan Christian Suryo Hadmadi dari  PTP XII berbagi suka duka pengembang biakan binatang nocturnal itu saat saya hadir dalam forum  bulanan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) hari Kamis yang lalu di Anomali Coffee, jalan Senopati 35 Kebayoran Baru, Jakarta.

Diskusi tentang kopi luwak selalu menarik apalagi Adi W. Taroperatjeka sebagai pemandu acara ini membukanya dengan mengajukan pertanyaan2 “nakal” seputar kopi luwak. Mengapa kopi jenis ini harus mahal? Apakah memang pantas konsumen mengeluarkan sejumlah uang  yang seringkali fantastis hanya untuk secangkir kopi hasil dari fermentasi di dalam perut luwak? Mengapa seorang suplier kopi bisa menawarkan kopi luwak dalam jumlah berton-ton padahal produksi kopi luwak di pasaran sangat terbatas?

Pertanyaan tersebut menjadi awal sebuah diskusi hangat termasuk sistem budidaya dan produksi kopi luwak, karakter kopi, metode roasting, hingga penjualan ke konsumen.

Tiga orang perwakilan dari PTP XII Adi, Dudiek, dan Christian menceritakan bagaimana mereka memulai produksi kopi luwak dengan melakukan penangkaran berikut kisal “pergaulannya”   dengan binatang yang hobi begadang ini. PTP XII mengungkap saat mereka harus gagal dulu  pada awal pengembang biakan binatang luwak.  Banyak luwak yang “meninggal dunia” karena kaget diberikan kemewahan makanan berupa kopi yang tersedia selama 24 jam, tapi ternyata tidak membuat binatang ini menjadi bahagia.

Dari sepuluh luwak yang mereka tangkarkan misalnya, hanya dua yang nrimo dengan rumah barunya, selebihnya mati entah karena stress atau kena penyakit.  Sampai-sampai  mereka harus mendatangkan ahli dari Taman Safari di Cisarua Bogor untuk memberikan pelatihan cara pengembang biakan mahluk ini supaya tidak terjadi lagi kasus luwak yang “kaget” itu. Kegiatan penangkaran  semuanya dilakukan di  perkebunan kopi PTP XII yang harus ditempuh selama 8 jam perjalanan darat dari kota Surabaya. Seiring waktu mereka mulai mengenali prilaku luwak dan berhasil melakukan budi daya luwak sekaligus memproduksi kopinya sejak dimulai tahun 2007 lalu.

Kalau ditangkar tentunya ada perubahan prilaku dibandingkan dengan luwak yang hidup di alam bebas ? Apakah perubahan ini berpengaruh dalam cara mereka mengkonsumsi kopi yang pada akhirnya membuat binatang ini tidak lagi selektif memilih biji kopi yang terbaik, tanya salah seorang peserta. Christian dari PTP XII menjelaskan bahwa walaupun habitat mereka sudah berubah, selama ini mereka belum melihat adanya perubahan pola makan yang signifikan. Jadi walaupun disediakan kopi sebagai menu spesialnya setiap hari, mereka tetap akan memakan biji kopi sesuai dengan pilihan mereka sendiri. Jumlahnya pun tidak selalu sama untuk setiap luwaknya, ada yang hanya 300gr atau 500gr.

Ina Murusani, Direktur pelaksana organisasi SCAI melontarkan keinginan organisasinya untuk segera melakukan geographical identification (GI) terhadap kopi luwak. Menurut saya,  ide ini sudah sangat mendesak untuk ditindak lanjuti untuk melindungi kopi luwak sebagai khazanah kekayaan bangsa Indonesia  dari kepentingan pihak manapun yang ingin mengambil keuntungan dari namanya. Sebagai informasi, GI tanda yang melekat pada suatu produk  yang bukan hanya mengindikasikan asal geografisnya, tapi juga sebagai lambang kualitas yang menjadi  atribut produk tersebut.

Dari sisi perdagangan internasional, GI tentunya merupakan nilai jual yang sangat penting sebagai alat promosi produk2 kopi unggulan dari Indonesia. Coba anda google kasus perebutan nama kopi Toraja antara Toarco dan Avanca Trading di negara Jepang. Lalu kasus serupa pada penggunaaan  “Gayo Coffee” yang diklaim oleh  perusahaan Holland Coffee B.V di Belanda. Rasa nasionalisme kita tentu akan terusik manakala pihak lain dengan seenaknya mematenkan wilayah geografis Indonesia untuk kepentingan produknya. Ina Murusani dan saya sudah sepakat untuk membuat janji pertemuan khsus dan menulisakan isu GI dalam blog ini.

Saat berbincang dengan saya di tempat terpisah, Adi Poerwatmoko mengenang saat idenya mengembang biakakan luwak ditertawakan oleh kolega kantornya. Karena niatnya sudah bulat, apapun harus dilakukan dengan keberhasilan projek ini termasuk begadang “menemani” sang luwak demi untuk melihat prilaku mereka saat sedang mengkonsumsi kopi. Upayanya mencoba berteman akrab dengan luwak ternyata tidak sia-sia dan menjadi bekal penting dalam menjalankan roda produksi kopi luwak di PTP XII.

Satu hal yang paling menarik tentunya saat Adi dan para koleganya mengidentifikasi bahwa tidak setiap luwak adalah pemakan biji kopi. Beberapa luwak yang mereka beli dari penduduk disekitar perkebunan justru ogah menyentuh kopi (mungkin ini jenis luwak yang hobi makan rujak cingur dibanding kopi  :D ) Prilaku lain yang termasuk unik misalnya kotoran luwak seringkali terpisah dengan biji kopi dan bagaimana binatang ini membuang kotorannya pada tempat yang bersih.

Bukan hanya penangkaran luwak, PTP XII juga melakukan terobosan maju sebagai perusahaan perkebunan pemerintah yang mengelola cafe sendiri dengan nama Rollaas. Nama ini  merupakan hasil konsultasi pimpinan mereka dengan seorang ahli  feng shui karena berasal dari rolas atau dua belas dalam bahasa Jawa, yakni angka perusahaan perkebunan ini.  Penambahan huruf “l” dan “a” yang menambah jumlahnya menjadi 7 huruf dan akan bersisa satu kalau dibagi dengan angka dua diharapkan menjadi hoki tersendiri. :)

Saya berpendapat, pada sisi konsumen, perlu ada satunya kepastian bawa mereka benar mengkonsumsi kopi luwak dan bukan sekedar kopi yang diberi label luwak seperti yang sering ditemukan di supermarket dan dijual dengan harga miring. Badan yang melakukan sertifikasi kopi luwak tentunya harus diakui dalam sistem perdagangan internasional, semisal lembaga audit sekaliber SGS.  Jadi, terlepas dari rasanya, konsumen diberikan jaminan bahwa mereka sedang menikmati sebuah eksotisme Indonesia melalui produk unggulannya, kopi luwak.

Nah tidak lengkap kalau berbicara tentang luwak tanpa melihat langsung ke perkebunan mereka. Jadi dengan Heri Setiadi, dari Cafe La Tazza tempat kami ngobrol malam itu, sudah melontarkan niat  untuk berkunjung ke PTP XII sambil ngarep kalau blog ini disponsori melakukan peliputan di sana :)

* * * *

30 replies
  1. upan
    upan says:

    mas kalau harga biji kopi luak per liternya berapaan yah!

    Biasanya dihitung per gram atau kilogram untuk rang sudah di goreng. Harga bervariasi, dari mulai ratusan ribu hingga jutaan pun ada.

  2. moel
    moel says:

    Terakhir saya berkunjung ke kebun PTPN XII, kopi luwak yang tersedia adalah bubuk dan roasted beans. Sayangnya roastingnya terlalu gelap, sekitar French atau Italian yang kurang cocok untuk selera saya yang lebih suka Full City roast. Seandainya tersedia green beans akan lebih menyenangkan mengingat banyak penggemar kopi yang memanggang sendiri kopinya.

  3. riesal
    riesal says:

    mungkin bisa diperjelas lagi pak toni tentang GI-nya, bagaimana mengidentifikasi bahwa kopi luwak itu asli indonesia, luwakkan tidak hanya ekslusif hidup di indonesia saja, di thailand ada, malaysia ada, bahkan vietnam. kedua, bagaimana soal sertifikasinya, saya banyak lihat sertifikasi keluaran sucofindo untuk luwak, hanya saja masih bingung dimana nilai certifiednya, soalnya isinya hanya kimia kopi bukan menerangkan ini asli luwak karena bla-bla-bla, kebanyakan produsen luwak di sumatera selatan bingung jika ditanya soal sertifikasi, padahal kopi luwak kami sudah ada sejak jaman belanda.

  4. sugenk
    sugenk says:

    sekali lagi janganlah pelihara luwak ..ditangkarkan…sama saja..biarlah hidupnya liar..yang juara jg yang liar kok…manusia memang bangsat…suka mengeksploitasi hewan…dimana peradaban kita…

  5. kasmito
    kasmito says:

    Kembali lagi ke kopi Luwak, sebagai roaster. Kopi Luawak sekarang buakanlah yang termahal didunia. sudah dikalahkan oleh Panama Hacienda Esmeralda Code Geisha. yang harga auction mencapat usd 150/kg green bean. Citarasa Orange dan juciy yang kental.
    Luwak Liar Gayo juara lelang kopi BALI ICSA2010 Oktober lalu dengan harga tertingi di USD 70/kg. Mudah2an lelang berikutnya bisa meningkatkan rasa dan harga sebagai kopi kebanggaan Indonesia.

  6. Dedy T Zaymi
    Dedy T Zaymi says:

    Dear Tony .. n all Bro & Sis
    Idealnya memang harus dapat di bahas juga mengenai eksotisme Luwak Liar nya, ..karena dari petani kopi di dataran tinggi Gayo – Aceh, saya memperoleh informasi yg akurat, bahwa sistem “penangkaran liar” dapat juga dilakukan. Ada beberapa metode sehingga para Luwak ini akan kembali dan ‘menyetor’ pada tepat yg sama dan lokasi yg serupa. Anyway..saya sgt mendukung kopi luwak indonesia ‘diberikan’ tepat yg pantas di pasaran dunia, terlepas dari cara Luwak itu ‘bekerja’.

  7. Zienna
    Zienna says:

    Thats very great idea…Pak Toni! Saya juga terinspirasi utk melakukan hal yg serupa. kebetulan saya pny lahan kopi n karet di wilayah Bengkulu. Tak begitu luas, sekitar 8 hektar saja. Kalo memungkin, saya ingin melakukan terobosan membuat kopi luwak. Dgn menternakkan luwak sendiri. So, saya membutuhkan detail info ttg penangkaran luwak dan cara menternakannya dgn baik. Ide ini sdh lama saya pkrkan, cuma blm ada wkt yg tepat utk merealisasikannya. Mslhnya, saya msh bekerja dan berdomisili di Hongkong. Sedangkan, perawatan kebun kopi saat ini msh dikelola Abang saya. Dan saya ingin terjun lsg ke lapangan utk melaksanakan gagasan saya tsb. Anyone, please bila ada info terkait dgn kopi luwak n cara pemberdayaannya. Mhn hubungio saya via email : latulipe_hollande@yahoo.com
    Thanx a lot…!

  8. kasmito
    kasmito says:

    Tangkar or Liar? memang ini kontroversi.
    tiap pihak punya versi sendiri2.
    Kelestarian dari sisi Alam.
    Citarasa dari segi kenikmatan.
    Kapasitas dari segi produsen.
    Profit dari segi bisnis.
    Harga sebanding dengan citarasa dan berbanding terbalik dengan kapasitas.

    Semuanyan berhubugan satu dengan yang lainnya. Tapi waktu yang akan membuktikanya eksistensinya untuk mencapai keseimbangan?

    enjoy the coffee

  9. m hatta
    m hatta says:

    sblmnya sorry utk mas tony…blm2 sy sdh ngoceh duluan…
    salam kenal mas,sy hatta dr ptpn 12.you doing good job in your blog.sukses slalu ya.

  10. m hatta
    m hatta says:

    @mas catur:kopi luwak hasil tangkar mgkn emang ga se”original” kopi luwak liar dan mgkn mmg lbh bgs kopi luwak dr luwak liar.tp sangat susah mendeteksi dimana n kapan luwak buang hajatnya di tmpt liar.shg susah mndptkn kopi yg benar2 “fresh” dari luwak liar.so…smua kembali pada pilihan anda….

  11. m hatta
    m hatta says:

    tangkar ato lepas liar?skrg tangkar dl demi keselamatan luwak itu sendiri.krn jumlah di alam liar makin lama makin berkurang.dilakukan konservasi utk pengembangbiakannya dan jika berhasil bisa utk produksi dan sebagian dilepasliarkan.

  12. fajar ramadhan yuliansyah
    fajar ramadhan yuliansyah says:

    salam kenal kang toni, kebetulan saya punya saudara petani kopi luwak kang. punten bisa minta info bagaimana cara untuk mendapatkan sertifikasi kopi luwak?? btw salut untuk foto2 & artikelnya kang. saya belajar banyak dari artikel kang toni loh. hi…3 thanks a lot…

  13. jalu kawitan
    jalu kawitan says:

    maf ni salam kenal dari ku
    aku pengen banget ni budidaya luwak….
    dimana di didaerah jawa timur bisa mendapatkan induk untuk dibudidayakan?!!!
    apakah binatang luwak di lindungi??!!
    terima kasih sebelumnya untuk infonya
    salam kenal

  14. saladdin
    saladdin says:

    Bagus artikelnya mas…kita patut bangga sebagai warga negara indonesia memiliki kopi terbaik dan termahal didunia yaitu kopi luwak.Kami bersama kelompok tani kopi betara jambi-sumatra mengusahakan kopi luwak liar yg kami dapat disekitar areal perkebunan kopi milik masing2 anggota kelompok tani.untuk populasi luwaknya masih lumayan banyak.oleh sebab itu kami dan anggota kelompok tani bersama2 menjaga populasi luwak agar tidak diburu supaya mendapatkan kopi luwak liar yang perosesnya didapat secara alami

  15. Beng
    Beng says:

    Mas, saya akan banyak minjam image2 dan mengutip tulisan2nya untuk komik saya tentang kopi, well.. tidak akan se-informatif ini, tapi berusaha turut “membicarakan” minuman budaya ini. Trims

  16. Jiewa
    Jiewa says:

    Lama ga mampir sini, eh.. ‘baju’-nya dah baru.. Sentuhan Angel emang top markotop..

    Saya udah bbrp kalo mampir ke Rollaas cafe di sby, suka sekali dengan olahan kopi dan teh di kedai tersebut. Selain racikannya yg manteb, baristanya juga sangat menguasai ilmu perkopian ^^

    Makasih Jie, blognya semakin sparkling berkat Angel.

  17. Mirza Luqman Effendy
    Mirza Luqman Effendy says:

    Mas Tony paling top deh tulisannya, detail abis..pokoknya bagaimanapun juga kopi luwak harus tersertifikasi, karena biar tidak ada orang yang menipu konsumen berdalih kopi luwaknya asli.

  18. Budiman
    Budiman says:

    Saya dukung mas paten Luwak. Artikel tentang GI kapan turunnya? banyak yang khas dari Indonesia dikalim bangsa lain. Contohnya, bumbu khas Indonesia Kunyit, yang diklaim Jepang. Garuda Indonesia dalam iklannya menampilkan semua yang khas dari Indonesia. Mulai dari tenunan yang dipakai di kursi, makanan, jus buah dan hingga kopi Luwak. Pertemuan SCAI rutin bulanan? Kalau orang awam mau ikut pertemuan itu bisa mas? Sukses

  19. Yefta Anugerah
    Yefta Anugerah says:

    Sekedar cerita. Waktu kuliah dulu, dosen saya meneliti enzim yang diisolasi dari perut luwak. Tujuan penelitian yang dibiayai sebuah perusahaan dari Jepang ini (kalau tidak salah Takeda) adalah memproduksi kopi luwak tanpa melalui perut luwak. Enzim tersebut kemudian diperbanyak dan dicoba untuk memproduksi kopi luwak dengan skala laboratorium dan berhasil. Cita rasa dan kualitas kabarnya serupa. Saat ini, mungkin sudah ada yang memproduksinya secara massal.

    Bagi penikmat kopi luwak, jika industri tersebut ada, mungkin harga kopi tersebut tidak lagi mahal.

    Anyway, foto-fotonya bagus! Dua jempol!

    Good infor Yefta, thanks :)

  20. prast
    prast says:

    saya terkesan dengan hal sertifikasi kopi luwak…memang harus didukung secara legal keabsahan setiap produk kopi luwak di pasaran. tidak berlebihan, karena ini khasanah kuliner Indonesia yang sudah dihormati didunia, jangan sampai hilang! mengingat komoditi mahal selalu jadi bulan2an produsen nakal

  21. suryo_christ
    suryo_christ says:

    penangkaran luwak??
    analoginya mungkin bisa digambarkan dengan perasaan sebagian orang Bandung yg sangat sayang dgn kopi Aroma yg mempunyai acidity dgn “kadar” sangat rendah krn disimpan bertahun2 padahal “esensi”nya dimana2 arabika mempunyai sifat acidity medium – high…ato bagaimana jg dgn “manipulasi” sistem semi wash proses temen2 di sumatra dan flores untuk mendapatkan bodi kopi Arabika yg “aslinya” tdk terlalu tinggi?
    semua itu tujuannya hanya satu : memperkaya khasanah cita rasa kopi Indonesia yg memang sdh kaya, krn tak perlu mendapat ikan kecil jika hiu pun udah lompat ke pancing kita he55…:)
    jape mete dab jaguy….biar tambah gajeng

  22. dudiekpolii
    dudiekpolii says:

    Kang Toni, bagus tuh tulisannya & foto-fotonya. Thanks atensinya kita bisa ngobrol bareng tentang kopi luwak & lain-lain. Saya sangat apresiate karya anda & good luck friend………

    Suwun Pak Dudiek … moga2 rencana saya ke PTP XII bisa segera terlaksana untuk lebih mempublikasikan kegiatan perkebunan kopinya. Salam.

  23. catur
    catur says:

    wah,luwak di tangkarkan?
    secara pribadi,dari lubuk hati terdalam seorang nyubi kopi ini,saya kok kurang setuju ya,karena,akan menghilangkan essensi dari ke”luwak”an kopi tersebut,seperti sudah berkurang soul nya,masih lebih baik,biarkan alami,tidak di tangkarkan,klo memang habis stok,ya sudah,saya rasa,di situ keunggulan kopi luwak yg tidak terbantahkan. Mengambil pengalaman pribadi yg tidak ada hubunganya dengan kopi:minum kopi luwak hasil tangkaran,mungkin akan sama rasanya dengan mancing ikan jumbo,tapi di kolam,masih lebih enjoy dapat ikan kecil,tapi dialam liar.

    Mohon maaf klo komentar saya kurang berkenan dan kurang tepat.Maklum,masih belajar.
    Salam buat semua

  24. suryo_christ
    suryo_christ says:

    thank pak Toni buat nemenin ngobrol di tempat pak Heri…btw,kita sudah report-kan ke BOD mengenai rencana bulan Juni, dan secara informal sudah confirm, jd tinggal tunggu surat resminya dari pak Tony dan kawan-kawan…

    Saya juga terima kasih sudah banyak mendapatkan informasi tentang kopi luwak Mas Suryo. Emailnya segera saya kirim dan sangat mengharap agar rencana kita bisa terlaksana. Salam. :)

  25. Bothar Pudhi Farms
    Bothar Pudhi Farms says:

    salutts…… buat artikelnya Pak Toni..

    saat ini saya juga menangkarkan luwak di Tapanuli Utara… terinspirasi dengan apa yang dilakukan PTPN XII…

    saya tetap mempertahankan sifat alami Luwak….. membiarkan siang hari tidur dan beraktivitas di malam hari….

    saya belum banyak tahu masalah kopi…… dari cikopi.com banyak info yang saya dapat… tentang kopi….

    pak Tony kalau tidak keberatan tolong bantu saya untuk mencoba bagaimana kualitas kopi dari budidaya luwak kami… yach !

    alamat pengiriman ……. jangan lupa dialamtkan ke email saya….trimakasih atas perhatiannya !!!!

    Saya kirim segera pak, siapa tahu kita bisa maen2 ke sana :)

  26. luvkatz
    luvkatz says:

    Saya dukung 100% kopi luwak harus dilindungi sebagai khazanah kekayaan nusantara. Tentunya kopi luwak yang benar-benar “luwak” :) maksudnya kopi luwak yang tidak disentuh “gimmick marketing” berlebihan dan bukan yang ngakunya luwak ;p Bagaimana kopi luwak-nya menurut kang Toni? hehehe jadi deh Coffee Luwak Mythbusting. Maju terus perkopian nusantara, Salute!

Trackbacks & Pingbacks

  1. […] This post was mentioned on Twitter by Mega prawita, kopikeliling. kopikeliling said: Bacaan menarik ttg kopi di pagi hari: "Tidak semua luwak suka kopi" : http://tinyurl.com/ydzeq9m (via Cikopi.com) […]

Comments are closed.