Seorang manajer sebuah hotel besar marah-marah karena pesanan kopinya ingin segera dikirimkan, padahal dalam kontrak sudah ditentukan dua hari sejak tanggal pemesanan. Permintaan itu tentu tidak bisa dikabulkan, tapi  Christian (30 th) berani melakukannya dengan resiko kehilangan rekanan bisnisnya karena ia konsisten menjaga kualitas pengiriman kopinya.

Itu hanya secuplik kisah  bagaimana caranya ia mengelola sebuah bisnis keluarga yang sudah masuk ke generasi kedua. Kini di tangannya, Froco Coffee Indonesia bukanlah nama asing sebagai pemasok kopi   besar dan semuanya dijalankan di “rumah nenek” yang berlokasi di Jalan Iskandar Muda, kota Tangerang.

Christian dan saya punya satu kesaamaan, hobi fotografi, walau tentu saja rejekinya berbeda :). Pertama kali bertemu di sebuah pertemuan para peminum kopi tahun 2007 yang lalu dan baru kali ini saya berkesempatan menegok “rumah nenek”-nya, tempat Froco memproduksi kopinya.

“Rumah nenek” itu sebenarnya hanya kiasan yang diberikan Christian untuk sebuah pabrik pengolahan biji kopi yang luasnya tidak bisa saya hitung, saking besarnya. Layaknya sebuah fasilitas manufaktur, di sini terdapat loading dock untuk penerimaan kopi mentah yang didatangkan dari berbagai daerah produsen kopi di Indonesia, gudang penyimpanan, ruang produksi, dan tentu saja area pengemasan, yang kesemuanya berada dalam satu lokasi di kota Tangerang.

Froco mendatangkan biji kopi dari sembilan wilayah di Indonesia, Aceh Gayo hingga Papua dan melayani pemesanan dalam bentuk custom roast, custom blend, termasuk penyediaan mesin kopi bagi rekanan bisnisnya. Lulusan ilmu komputer dari Binus ini selain piawai menjalankan binis, juga paham bahasa program komputer selain hobi ngoprek berbagai mesin, terutama mesin roasting kopi tentunya.

Kisahnya berawal saat Christian ingin meningkatkan efesiensi proses roasting dengan cara mendigitalisasi data roasting-nya yang sebelumnya masih direkam secara manual. Sebelumnya si roaster sendiri yang harus mencatat berapa suhu di drum roaster, temperatur biji kopi, hingga lamanya proses roasting itu sendiri.

Selain tidak efisien, terdapat masalah krusial yakni akurasi data, misalnya suhu biji kopi bisa tidak terukur dengan tepat dan berakibat mengacaukan keseluruhan roasting profile yang sebenarnya bisa menjadi patokan bagi roaster lain untuk memudahkan pekerjaan mereka. Belum lagi bila masing-masing biji kopi bahkan dari daerah yang sama saja terdapat perbedaan cara pengolahannya yang akan berbeda pula cara roasting-nya

Dengan bekal ilmunya Christian mulai menuliskan baris demi baris bahasa komputer hingga jumlahnya mencapai dua juta demi sebuah perangkat lunak yang kelak akan menjadikan proses roasting semudah menekan tombol di layar sentuh. Teori awalnya seperti itu, tapi di tengah perjalanan ia harus berjibaku karena mesin roasting-nya masih ogah berkomunikasi dengan dengan perangkat lunak yang sudah ia selesaikan.

Jadilah pekerjaannya bertambah karena ia harus membuat sebuah perangkat keras yang berfungsi sebagai bridging atau alat yang “memediasi” percakapan antara mesin roasting dengan software-nya yang  kesemuanya ia kerjakan sendiri.

Komputasi komputer menggunakan bahasa binary yang hanya terdiri dari angka 0 dan 1, sedangkan suhu kopi menggunakan angka desimal. Nah disinilah peran sebuah perangkat penterjemah yang akan mengkonversi angka desimal suhu kopi sehingga bisa dibaca oleh komputer secara akurat dalam layar monitor dengan komputasi perhitungan seketika melalui.

Suhu kopi hanyalah salah satu fitur yang ada pada perangkat lunak yang berhasil ia kembangkan,  masih banyak lagi fasilitas lainnya yang bisa digunakan oleh roaster baik untuk pengerjaan secara manual  atau dengan memilih custom roasting profile berdasarkan asal daerah kopi hingga data suhu menit per menit yang telah di atur sedemikian rupa.

Hasil roasting bisa langsung dicetak dan merekam semua data selama sangrai kopi berlangsung termasuk kecacatan yang mungkin saja terjadi.  Program dengan arsitektur rumit ini belum ia patenkan dan masih digunakan untuk keperluan perusahaannya saja. Hebat bukan ?

Bukan itu saja, perusahaan Froco sedang mendesain sistem pendinginan kopi dengan blower yang terintegrasi dengan mesin roaster. Sistem yang sudah mencapai tahap akhir ini memungkinkan pendinginan biji kopi berlangsung secara cepat tanpa fluktuasi suhu yang tidak terkontrol akibat buangan panas pada mesin roasting, sekali lagi demi hasil maksimal dan rasa kopi yang terjaga kualitasnya.

Imajinasi Christian mungkin tak terbatas, tapi ia mengajarkan filosofi kerendahan hati dalam menjalankan sebuah perusahaan keluarga yang bisa bertahan puluhan tahun hingga sekarang.

* * * * *

seperti di bawah ini :

22 replies
  1. AdityaPutra
    AdityaPutra says:

    artikel yang bagus, terimakasih mas toni.
    ingin rasanya mengikuti jejak-jejak para roaster.

    buat bang toni, saya ingin sedikit bertanya masalah roaster dan mungkin bang toni bisa berbaik hati memberikan saya sedikit informasi.
    kalau boleh tolong kirim alamat email abang ke saya.
    makasi sebelumnya.

  2. fero
    fero says:

    besok siang saya akan meluncur kejalan iskandar muda tanggerang atas refrensi pak you che

  3. ronald
    ronald says:

    pak christian, boleh gak saya masukin biji kopi ke perusahaan bapak,,,,saya senang bisa kerjasama dengan bapak

    trim’s

  4. Andi
    Andi says:

    thanks pak toni,
    melalui blog ini banyak cerita per’kopi’an yg baru gw dapat, maklum gw masih newbie yg baru belajar minum kopi …
    lanjutkan pak …

  5. Seasons
    Seasons says:

    You you should change the page title
    Froco Coffee | Cikopi to something more suited for your blog post you write. I enjoyed the post nevertheless.

  6. martin
    martin says:

    bener2 bnyk info tentang dunia perkopian disini mantaps pak toni..
    keren ui gudang kopinya kpn punya gudang sgede itu btw gmna caranya tuh pak goreng kopi pke wadah teflon heheheheh

  7. coffeelover
    coffeelover says:

    Froco coffee itu sama tidak dengan pabrik kopi LAMPURA ?? soalnya setahu saya alamatnya sama. Apa memang sama tapi dengan konsep penjualan kopi yang berbeda antara lampura dengan froco coffee?

  8. jarot
    jarot says:

    Froco coffee n pak Toni keduanya sama-sama hebat. dari konsep produksi kopi sampai foto nya ciamik banget

  9. Budiman
    Budiman says:

    Senang mendapat kisah inspiratif dari master kopi. Saya awam tentang heroes di dunia kopi. Boleh sering bagi tentang mereka mas. Mau tanya, Froco artinya apa ya? Mereka menjual roasted bean ukuran rumah gak (250gr)? Ingin cicip karya mereka.

    Froco = Fresh Roasted Coffee.

  10. Rian Hafiz
    Rian Hafiz says:

    mas toni saya numpang comment lg nih, hehe. saya juga pernah roasting kopi sendiri pake wajan teflon yang hasilnya gosong dan asap ngebul sampai satu rumah penuh asap. hahahaa hati2 roasting manualnya mas. btw improvement di blognya bagus bgt!

  11. SARANG KOPI
    SARANG KOPI says:

    MANTABH nich Pak Toni..bahasan seseorang yang saya hormati dan segani di dunia kopi. 🙂

    SUKSES selalu ya Juragan Chris..

    Pak Chandra, terima kasih, sohib saya dari Bandung … Sukses bisnisnya pak.

  12. jorzy
    jorzy says:

    Pak tony, fotonya selalu keren…just curious nih pak (kalo boleh)…anda pake 2 flash terus ya dlm kebanyakan fotonya ? hehehe….

    @ pak Chris…
    wah hebat betul pak, saya pernah punya cita2 jadi tukang kopi kaya bapak…belum kesampean…apa udah ketinggalan kereta kali pak ya ? hehehe….sukses selalu pak..

    Hi Jorzy, hampir 90% foto2 di blog ini menggunakan cahaya seadanya. Jadi cuma mengandalkan kekuatan tangan sambil nahan nafas supaya gak getar tangannya, walau seringkali gak fokus 🙂

  13. wallflowers
    wallflowers says:

    Ajieeebbb… Om Chris coyyy…
    One of my great master in my coffee experience..
    Ga sabaaar nih bos buat training lg ke “rumah nenek”
    Hehehehe sukses selalu buat fresh roasted coffee nya.

    Foto” Pak Toni emang keren abis..geleng” nih liatnya..

    Suatu saat Sidewalk Coffee harus nampang di blog ini …

  14. chris
    chris says:

    terima kasih pak Toni & teman2 yg sudah berkenan mampir.

    si akang mah foto dan tulisannya luar biasa, rumah nenek saya jadi keliatan artistik dan luas.

    btw untuk software saya masih belum tau apakah ini yang pertama alias belum ada industri kopi di Indonesia yang menggunakannya.yang jelas sih software berbasis SCADA sejenis ini sudah biasa digunakan di Indonesia umumnya di industri mining.

    @bro charles : hello juga bro,udah lama gak ngumpul2.saya sendiri goreng kopi cuma sekali seminggu buat test aja.kapan2 hunting foto bareng pak Toni yuk 🙂

    Makasih Pak Chris, pengalamannya dalam dunia kopi terutama roasting sungguh sangat berharga dan membuka mata kami. Sepertinya kopi dan fotografi punya kesamaan, semakin didalami, semakin banyak ilmu yang harus dipelajari. Tentu, kapan2 kita harus jalan bareng tentunya 🙂

Comments are closed.